
...***...
Hening. Tidak ada sedikitpun suara yang terdengar di dalam sana.
Hari semakin sore, dan sudah berjam-jam lamanya Rei terhenyak di sofa dengan posisi kepala menengadah menatap langit-langit ruangannya. Saat ini dirinya berada di ruang tengah.
Otaknya terus dihampiri pertanyaan yang sama, sejak pembicaraannya terakhir kali dengan Elvina dan William yang membahas mengenai evolver.
Rei terus bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah dirinya adalah evolver? Apakah dia bagian dari mereka? Tapi kalau dirinya adalah evolver, kenapa selama ini dirinya tak pernah menyadari hal itu?
Rei berusaha mengingat setiap detail masa lalunya, berharap bisa menemukan sedikit jawaban atas setiap pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Namun lagi-lagi dirinya tak dapat menemukan jawaban sama sekali.
Rei mengacak-acak rambutnya frustasi. Memikirkan semua itu, membuat kepalanya sakit. Apalagi ketika dirinya terus berusaha mengingat kejadian di masa lalu yang bahkan tak membuahkan hasil apa-apa.
"Aku butuh udara segar," gumam Rei yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Rei melangkah mengambil jaket dan kunci motornya, ia hendak pergi mencari udara segar dan menenangkan pikirannya sementara waktu.
...*...
Rei menepikan motornya di tepi jalan tempat pertama kali dirinya bertemu dengan Elvina. Ia melepas helm yang terpasang di kepalanya. Melangkah menuju tepi jalan, dan berdiri di belakang pagar besi yang langsung menghadap ke arah pemandangan laut lepas yang begitu indah.
"Tempat ini memang selalu berhasil membuatku merasa lebih tenang." Rei memonolog. Matanya kini menatap lurus ke depan, tepat ke arah hamparan laut yang membentang hingga berkilo-kilo meter jauhnya.
Mungkin aku akan di sini hingga Elvina atau William pulang agar aku bisa merasa lebih tenang, batin Rei. Ia memejamkan kedua matanya menikmati semilir angin lembut yang menerpa wajah tampannya.
Untuk sejenak, ia tidak ingin menghiraukan kebisingan yang menyelimuti sekitarnya.
Rei membuka kedua matanya secara spontan begitu secara tidak sengaja sesuatu seperti mimpi melintas saat matanya terpejam. Bayangan yang sama ketika Rei melihat Elvina bertarung waktu itu.
Apa itu tadi? Kenapa aku melihatnya lagi? Tapi, kenapa kali ini mereka mengincarku? batin Rei. Dalam apa yang dilihatnya, Rei melihat Joe dengan beberapa orang pria yang tiba-tiba muncul dan mengepungnya, serta sebuah tempat yang penuh dengan tanaman lebat dimana-mana.
Rei mengalihkan pandangannya. Menoleh ke arah belakang. Ia merasakan sesuatu tengah bergerak menuju arahnya. Firasatnya mengatakan akan ada bahaya yang mengancam.
Rei mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Fokusnya seketika tertuju ke arah sekitarnya. Waktu tiba-tiba saja berhenti, membeku dalam posisinya. Orang-orang yang semula berlalu-lalang di sekelilingnya mendadak berhenti seperti patung batu, begitu juga dengan air laut yang semula bergerak mengalun tiba-tiba saja berhenti bergerak.
Mereka di sini, batin Rei. Suara langkah kaki menyita perhatiannya. Di sana, tepat dari arah yang ditatapnya, Rei dapat melihat Joe yang melangkah bersama dengan beberapa orang anak buahnya.
"Ternyata kau benar-benar tidak terpengaruh dengan kekuatan pengendali waktuku," ujar Joe yang kemudian menghentikan langkah kakinya beberapa meter dari arah Rei berdiri saat ini.
...***...