Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 332 - Tipe ideal?



...***...


"Aaa…" Lusia menyodorkan makanan dalam sendoknya ke arah Rei yang duduk dihadapannya.


"Aku bisa makan sendiri," ujar Rei sembari tersenyum. Lusia sejak tadi begitu mencemaskannya setelah kejadian kemarin, dan ia memaksa Rei untuk disuapinya.


"Satu kali lagi, saja!" Lusia keukeuh. Rei terkekeh pelan sebelum kemudian membuka mulutnya dan melahap makannya.


"Perasaanku sedikit tertekan," gumam Gloria yang sejak tadi duduk di samping Lusia. Sejak tadi, dirinya harus melihat Rei dan Lusia yang terus bermesraan tanpa menghiraukan keberadaan dirinya dan Heru.



"Wah hebat! Kalian bahkan sampai tidak peduli kalau kami ada di sini." Heru menyindir saat ia juga mulai merasa tidak tahan.


Lusia dan Rei melirik pada sepasang remaja yang menjadi sahabatnya itu. Wajah mereka berdua tampak tidak sedap karena sejak tadi merasa jadi nyamuk diantara keduanya.


"Kenapa? Kalian iri?" ujar Lusia dengan nada ketus.


"Menurutmu? Apakah kalian tidak bisa bersikap normal saja? Biasanya juga kalian tidak seperti ini," jawab Gloria tak kalah ketus.


"Memangnya kenapa kalau kami ingin seperti ini? Lagipula kami sudah resmi jadian. Kalau kalian iri pada kami, kenapa kalian tidak cari pasangan juga? Kurasa kalian cocok." Lusia menatap bergantian antara Heru dan Gloria.


"Apa?" Gloria dan heru beradu pandang sejenak sebelum kemudian berkata, "tidak mungkin!" Dengan suara serentak.


Rei tertegun dibuatnya. Orang-orang di sekitar mereka bahkan sampai menoleh ke arah meja mereka karena keduanya berbicara dengan suara yang cukup keras.


"Aku tidak mungkin berpacaran dengannya!" Gloria menunjuk Heru.


"Aku juga tidak mungkin pacaran dengan gadis seperti dia!" ujar Heru.


"Lihat? Kalian benar-benar cocok, bahkan kalian sangat kompak dalam menolak." Lusia beralih pada makanannya.


Aku dengan Heru? Cih, tidak mungkin. Memangnya cocok dari sebelah mananya? Dia saja benar-benar bukan tipeku, pikir Gloria yang kemudian menundukkan kepalanya dan berusaha fokus pada makannya.


Rei beralih menatap Gloria dengan mulut sibuk mengunyah makanan. Ia bisa dengan jelas membaca isi hati gadis itu.


Dengan Gloria? Aku? Tidak akan pernah mungkin! Bagaimana pun, aku hanya mengganggapnya sebagai teman. Tidak lebih! Heru meraih gelas minumnya.


Rei kini memandang Heru, ia juga bisa dengan sangat jelas mendengar ucapannya dalam hati.


Mereka sama-sama menolak. Ucapan Lusia memang benar, mereka berdua sangat kompak, batin Rei sambil mengulum senyum memandang kedua temannya bergantian.


"Kalau Heru bukan tipemu, lalu seperti apa lelaki idamanmu?" Rei melontarkan tanya. Lusia, dan Heru mendongak ke arah Gloria yang di ajaknya bicara.


"Huh? Tipeku?" Gloria menunjuk dirinya sendiri, Rei mengangguk pelan.


"Benar juga, bagaimana tipe lelaki idamanmu? Selama ini kau tidak pernah menceritakannya padaku." Lusia menimpali.


"Tipe lelaki idamanku itu seperti…" Gloria menggantungkan ucapannya, ia menatap Rei lekat.


Lusia yang menyadari sahabatnya itu menatap Rei secara berlebihan, seketika merasa terusik.


"Hey! Berhenti menatap Rei seperti itu, walaupun dia adalah tipe idamanmu. Tapi dia milikku!" tukas Lusia sambil mengguncang pundaknya. Gloria tersadar dari lamunannya.


"Argh! Siapa yang bilang Rei adalah tipeku?"


"Lalu kenapa kau menatapnya seperti itu? Awas saja, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani merebutnya dariku!" Ancam Lusia dengan wajah serius. Rei hanya terkekeh pelan menanggapi keposesifan Lusia.


...***...