
...***...
"Aku sial karena harus terus terjebak dalam pekerjaan yang sama denganmu," ujar Rei sembari menatap lelaki di sampingnya. Di tangannya, ia menggenggam alat-alat untuk persiapan upacara sebelum semuanya di mulai.
"Memangnya kau pikir aku beruntung? Aku juga sial di sini!" Andrew mendelik.
"Keberuntunganku hanya di tempatkan di kelas yang berbeda denganmu untuk membimbing siswa-siswi baru."
"Ya, aku juga," sahutnya. Mereka terus berjalan menuju lapangan.
Saat di perjalanan, Rei tidak sengaja berpapasan dengan Lionel yang hendak pergi menuju lapangan juga.
Sudah berulang kali, saat dirinya bersama Andrew, ia terus berpapasan dengan Lionel. Lelaki itu anehnya selalu melirik padanya setiap kali berpapasan lalu terkekeh pelan tanpa alasan yang jelas, sama seperti yang ia lakukan sekarang ini.
...*...
Semenjak masa pengenalan sekolah. Namanya semakin banyak di kenal hingga Rei lebih sering menerima surat berisi pernyataan cinta dari para gadis, terutama adik kelasnya.
Setiap surat yang diterimanya selalu berada di atas mejanya setiap pagi. Namun apa yang Rei lakukan hanyalah menaruh semua surat itu ke kolong mejanya.
"Hidupku benar-benar tidak pernah bisa tenang," gumam Rei yang baru tiba lantas duduk di mejanya.
Tidak lama, Haikal tiba dengan sepucuk surat di genggamannya. "Ini! Dari penggemarmu yang lain." Lelaki itu menyodorkan surat di tangannya pada Rei.
Haikal mengambil duduk di kursi yang bersebelahan dengan Rei. Mereka duduk satu meja.
"Ya, dia memang populer. Lihat saja ini, dia mendapatkan surat dari banyak gadis hanya dalam beberapa Minggu, tapi diantara semuanya tidak ada yang di bacanya sama sekali. Apakah kau tidak berniat untuk memacari salah satu diantara mereka?" Haikal melirik pada teman sebangkunya itu.
"Aku belum kepikiran sampai sana. Yang aku fokuskan saat ini hanyalah masa depanku." Rei menaruh surat yang diberikan Haikal ke kolong mejanya.
Rapi duduk di meja yang letaknya tepat di belakang Rei, lalu melihat ke kolong meja lelaki itu. Memang ada banyak sekali surat yang sudah ia jejalkan ke dalam sana, bahkan sebagian besar nyaris muntah keluar saking banyaknya.
...*...
Andrew, datang ke kelas Rei untuk menemui lelaki itu. Mereka memiliki piket untuk jaga gerbang dan mencatat siapa saja yang datang terlambat.
Di sinilah berbagai gosipnya mulai bermunculan yang mengatakan kalau Rei dan Andrew memiliki hubungan layaknya sepasang kekasih.
Berita itu terus berkembang dari mulut ke mulut hingga ia naik ke kelas IX, dan di tempatkan di kelas yang sama dengan Lionel.
Semuanya semakin rumit. Orang-orang makin percaya dengan rumor yang beredar. Terutama untuk anak-anak yang satu angkatan dengannya. Khususnya para lelaki, mereka meyakini Rei memiliki hubungan dengan Andrew.
Rei sering kali menjadi bahan omongan teman-teman lelakinya. Namun enggan untuk ambil pusing, ia berusaha menghiraukan ucapan mereka semua dan lebih fokus pada pelajarannya.
Dua tahun terakhir, kondisi kesehatannya memburuk akibat banyaknya kegiatan yang ia lakukan.
Padatnya jadwal mulai dari kegiatan OSIS, Paskibra, dan Pramuka yang di ambilnya tanpa sadar memforsir seluruh energinya.
Di tambah dengan banyaknya pelajaran yang harus ia ikuti, kondisi kesehatan Rei semakin menurun. Sampai-sampai membuatnya sering kali bolos kelas dan mengambil izin sakit untuk beristirahat.
...***...