Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 32 - Coffee shop



...***...


Rei berdiri di belakang salah satu pelanggan yang tengah antre. Kedatangan Rei sejak awal sudah menyita perhatian semua orang terutama para gadis yang berkunjung ke coffee shop tersebut. Mereka langsung berbisik seraya menatap ke arah Rei. Tidak sedikit diantara mereka yang langsung mengeluarkan ponselnya dan memotretnya tanpa izin.


"Oh, astaga. Dia begitu tampan."


"Ayo ajak dia kenalan, siapa tahu dia masih single."


"Aku ingin tahu namanya."


"Aku ingin nomor ponselnya."


"Aku ingin mengajaknya berkencan."


Entah bagaimana. Tapi, yang pasti Rei dapat dengan jelas mendengar suara bisikan orang-orang di sekitar Rei yang terus menatap ke arahnya, bahkan nyaris tak berkedip.


Rei menatap ke sekeliling dengan raut wajah bingung. Ia merasa kurang nyaman dengan tatapan semua orang di dalam coffee shop tersebut.


Ada apa dengan mereka semua? Kenapa mereka membicarakanku sambil menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku? pikir Rei yang jadi salah tingkah sendiri. Ia mengusap wajahnya berulang kali. Rei berusaha untuk tidak menghiraukan mereka semua dan memilih untuk terus fokus pada antrean yang tengah berjalan.



Setelah cukup lama mengantre, Rei akhirnya mendapatkan giliran untuk memesan. Ia segera meminta si pelayan yang ada di sana untuk membuatkan pesanannya.


Rei terdiam. Ia juga merasakan tatapan aneh dari wanita yang berdiri di belakang meja kasir itu. Beberapa kali wanita itu tersenyum seraya menatap Rei tanpa berkedip.


"Apakah hanya itu saja pesanannya?" tanya wanita itu.


"Iya. Totalnya berapa?" tanya Rei balik.


"Kau tidak ingin nomor ponselku?" Wanita itu tersenyum menggodanya. Rei hanya tersenyum kaku sambil menggeleng pelan.


"Aku di tolak." Wanita itu terkekeh pelan seraya menundukkan kepalanya. Tangannya bergerak membungkus semua pesanan Rei, lalu menyodorkan pesannya. Rei baru saja hendak membayar, sebelum seorang wanita yang mengantre di sampingnya mengeluarkan uang dan menyodorkannya ke arah si kasir.


"Biar aku yang bayar," ucapnya.


Rei menoleh ke arah datangnya suara. Seorang wanita cantik bertubuh tinggi dengan kulit putih dan rambut panjang yang tergerai ke belakang tengah berdiri tepat di sampingnya.


Wanita itu beradu pandang dengan Rei sambil tersenyum. Ekspresi yang sama seperti yang lain.


"Aku bisa membayarnya sendiri," kata Rei.


"Tidak perlu. Biar aku saja."


Si pegawai kasir langsung memasukkan uang yang tadi diberikannya ke dalam kasir.


"Omong-omong, bolehkah aku meminta nomormu?" Wanita di samping Rei menyodorkan ponsel dalam genggamannya.


"Untuk apa?" Rei menautkan alisnya bingung. Pertanyaan retorisnya membuat wanita itu speechless.


"Ng… mungkin, kita bisa saling mengenal. Entahlah, atau kita bisa hanya sekedar mengobrol bersama," balasnya.


Rei meraih pesanannya yang berada di atas meja. Ia melirik sekilas ke arah wanita yang berdiri di sampingnya.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membayarkan semua ini, walau sebenarnya aku bisa bayar sendiri. Tapi, aku sedang buru-buru, dan tidak memiliki banyak waktu. Aku permisi." Rei berbalik, melangkah pergi meninggalkan wanita yang kini berdiri menatapnya dengan raut wajah tak percaya.


Dia baru saja di tolak mentah-mentah oleh Rei. Sungguh memalukan, apalagi semua orang menatap kearahnya. Kini, mereka cekikikan menertawakan nasibnya.


Tiba di luar, Rei yang benar-benar sudah merasa tidak nyaman segera menghampiri motornya. Mengendarai benda itu menuju tempat kerja Elvina.


...***...