Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 58 - Rencana



...***...


Suara sirine dengan agak pelan mendominasi. Malam itu, seperti malam-malam biasanya. Robot-robot android berpatroli di sepanjang koridor. Sementara para evolver penjaga berjaga di luar laboratorium serta memantau di ruang kendali, dan evolver lab, hanya beberapa saja yang terjaga. Melanjutkan penelitian mereka.


Elvina terdiam tak bersuara. Ia masih terjaga. Otaknya terus berputar menyusun kembali rencananya agar lebih matang.


Aku sudah memperhitungkan semuanya, bisa aku pastikan. Aku bisa lolos dari sini dengan membawa Will keluar, pikir Elvina.


Elvina memegangi dadanya. Jantungnya berdebar hebat saking gugupnya. Keringat dingin tampak mengucur membasahi keningnya.


Elvina mendengarkan suara sirine dari robot android yang bergerak tak jauh dari tempatnya. Suara sirine dari robot android itu, semakin lama semakin terdengar jelas oleh telinganya hingga kemudian suaranya terdengar berada di luar ruang isolasinya. Bersamaan dengan suara sirine yang terdengar jelas, Elvina melihat cahaya putih menembus masuk lewat jendela di ruang isolasinya.


Elvina membalikan tubuhnya ke arah dinding. Robot android itu, menghentikan langkahnya di depan ruang isolasi Elvina. Cahaya putih yang tidak lain dari matanya itu, menatap ke arah jendela yang Elvina tempati.


Cahaya itu mulai bergerak, melakukan scan dari sudut bagian atas, hingga sudut bagian bawah. Mencapai lantai. Tidak lama, robot itu kembali melaju meninggalkan tempat berada.


Elvina bangun untuk memastikan. Ia terduduk di atas ranjangnya dengan telinga yang terus berusaha mendengarkan suara sirine yang sudah semakin menjauh dari tempatnya.


Bagus, waktunya bergerak, pikir Elvina. Ia segera menatap pergelangan tangannya dimana gelang itu melingkar. Elvina berusaha melepaskan gelang itu, namun begitu sulit. Berkali-kali ia mencoba, tapi selalu gagal.



Elvina merekahkan senyuman. Akhirnya usahanya berhasil. Ia segera menaruh gelang itu, di atas ranjangnya.


Elvina melangkah turun dari ranjangnya. Dengan langkah besar, ia melenggang menghampiri pintu keluar.


Ia merapatkan dirinya ke arah pintu saat mendengar suara robot android yang kembali melintas melewati ruang isolasinya. Beruntung, robot itu bergerak tanpa mengecek ulang.


Elvina membungkuk menatap kenop pintu. Kenop pintu berteknologi canggih itu, memerlukan kode keamanan yang tidak biasa untuk membukanya harus memiliki akses data tertulis di sistem keamanan. Biasanya berupa sidik jari, dan kode bernomor agar kuncinya bisa terbuka.


"Bagaimana aku bisa membuka pintu ini?" bisik Elvina pelan. Matanya terus memperhatikan layar hologram berukuran mini yang muncul di kenop pintu. Di bagian bawahnya terdapat layar LED yang lebih kecil dengan bentuk sidik jari di sana.


"Aku harus mencari ide agar bisa membukanya," kata Elvina. Matanya mulai mengedar mencari sesuatu yang dapat ia gunakan.


Mata Elvina lantas tertuju pada meja di dekat ranjang tidurnya. Ia segera menghampiri meja tersebut. Menyapu udara, hingga layar hologram itu tampak dihadapannya.


"Mana tombol yang dapat membuka tabung itu, agar muncul?" bisik Elvina. Ia mengotak-atik tombol yang ada di layar hologram. Setelah berulang kali gagal, akhirnya Elvina berhasil menemukan tombol yang tepat hingga tabung di meja itu muncul.


Elvina segera bergerak mencari benda yang dibutuhkannya. Ia mencari selotip dari tempat penyimpanan, lalu mengirim ke tempatnya.


...***...