Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 164 - Hasil tes



...***...


"Bisakah kau ceritakan sedikit tentangnya?" tanya Leon.


"Tidak bisa," gumam Rei pelan.


"Cih, dasar pelit. Aku hanya ingin kau membicarakannya sedikit saja, bagaimana Elvina, apa saja yang dia suka, dan bagaimana kesehariannya selama tidak bekerja."


"Bukannya aku pelit. Aku tidak menjelaskannya karena aku tidak ingat apa-apa tentangnya."


"Tapi bukankah kalian sudah dekat sejak kecil? Bahkan semua kebersamaan kalian ada pada album foto yang aku lihat." Leon menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Aku tidak ingat apa-apa tentangnya, karena aku… amnesia."


"Amnesia? Sungguh?" Leon mendekat ke tepi ranjang dan menatap Rei guna memastikan.


Rei mengangguk pelan sebagai jawaban. "Ya, setidaknya begitulah yang Elvina dan William yakini. Tapi, kalau kau tanya padaku Elvina orang yang seperti apa… bagiku dia orang yang baik hati, pengertian, perhatian, penyayang, sosok kakak yang bertanggung jawab, sepupu yang luar biasa, dan dia sangat pintar. Terutama dalam bidang matematika."


"Benar! Aku setuju denganmu!" Leon tersenyum mendengar setiap pujian yang keluar dari mulut Rei, ia sendiri memang sangat setuju dengan pendapat Rei mengenai gadis pujaannya itu.


"Kalau untuk yang dia sukai… yang aku tahu, Elvina itu orang yang cukup tomboy tapi menyukai warna merah muda, memang terkesan aneh, tapi bagiku itu unik. Selain itu, dia menyukai cokelat panas, lalu dia suka membaca buku novel, musik dan film-film Korea, serta pandai dalam bidang memasak."


"Begitu rupanya…" Leon kembali mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar. Ia terdiam cukup lama, tidak ada hal lain yang mereka bicarakan setelahnya, dan hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka.


Leon tersenyum simpul memikirkan Elvina dan berbagai pendapat yang diberikan Rei terhadap wanita yang disukainya itu.



Pukul sepuluh pagi, Sandy mendapatkan telpon dari Isyana yang mengatakan kalau hasil dari tes DNA yang mereka lakukan telah keluar. Mereka segera bertemu di rumah sakit untuk mengambil dan mengecek hasilnya.


Setelah menunggu beberapa saat, mereka akhirnya mendapatkan apa yang mereka cari. Hasil dari tes DNA yang mereka lakukan terhadap Rei. Keraguan mereka sebentar lagi akan terjawab setelah mereka mengetahui hasil yang mereka dapatkan dari tes yang mereka lakukan.


Sandy membuka amplop putih dalam genggamannya, ia baru saja siap untuk meraih lembar kertas di dalamnya, tapi Isyana menahannya lebih dulu.


"Apakah kita yakin mengenai hal ini? Bagaimana kalau ternyata Rei benar-benar anak kita? Kalau dia tahu kita melakukan hal ini, dia pasti akan sangat kecewa dengan apa yang telah kita lakukan!" Isyana menatap Sandy penuh keraguan.


"Hanya dengan ini kita bisa percaya apakah dia benar-benar anak kita atau bukan. Lagipula kau juga penasaran, 'kan?"


Isyana menundukkan kepalanya, ia memang penasaran dengan hasil tes DNA itu. Tapi Isyana masih merasa kalau apa yang telah mereka lakukan akan melukai perasaan Rei kalau sampai dia tahu kedua orangtuanya telah berbuat sejauh ini.


Sandy menarik perlahan kertas putih bersih di dalamnya. Ia membuka lipatan pertama dengan teks besar bertuliskan laporan hasil tes DNA.


Ia berhenti sejenak, keningnya berkeringat dengan jantungnya yang berdebar hebat. Rasanya seperti hendak mengecek angka lotre untuk kemudian di samakan dengan angka yang muncul.


Isyana menghela napasnya panjang sebelum kemudian meminta Sandy melanjutkan membuka lipatan kertas di tangannya itu.


...***...