Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 300 - Rumor



...***...


"Kalau dia adalah orangnya, itu berarti dia juga yang sudah membuatku kehilangan ingatanku dan merubahku menjadi seorang evolver?" Rei kembali mengajukan tanya.


"Ya… dia memang orangnya." Akhirnya Louis angkat bicara setelah cukup jeda yang di ambilnya.


Rei diam terpaku di tempatnya. Ia tidak bisa berkata-kata mendengar pengakuan Louis.


Louis mendongak menatap tuannya. "Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Ini bukan saat yang tepat. Dan satu hal yang ingin aku minta dari tuan, jangan pikirkan mengenai lelaki itu. Aku hanya tidak ingin, tuan terluka jika harus berhadapan dengannya."


Louis beradu pandang dengan Rei yang kini masih terdiam tanpa kata.



...*...


Lusia resah menatap ke arah pintu masuk. Bel sudah berbunyi, namun Rei tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Kenapa dia terlambat? Tidak seperti biasanya. Apakah dia tidak akan masuk? Apa dia menghindar karena ada berita tidak enak tentang dia? Sekarang bagaimana aku bisa mencari tahu kebenarannya kalau dia sendiri tidak ada? Aku butuh penjelasan darinya, batin Lusia yang termangu di tempatnya.


Tidak lama, akhirnya lelaki yang di carinya sejak tiga hari lalu itu menampakkan dirinya.


Begitu Rei masuk, keadaan kelas yang semula ramai menunggu guru, mendadak sepi senyap tanpa suara sedikitpun.


Semua orang menatap ke arah Rei yang kini menghampiri mejanya dan duduk di kursi yang sama dengan Heru.


Heru memandangi Rei, ia ingin menanyakan keberadaan mengenai gosip yang beredar tentang tentangnya. Tapi, baru saja ia akan berucap pak Fadly sudah lebih dulu muncul dan masuk ke dalam kelas mereka.


...*...


"Rei, tunggu!" Lusia menarik tangannya. Rei berhenti dan menoleh ke arah gadis yang kini mencengkram pergelangan tangannya. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, bisa kita bicara?"


"Aku sedang buru-buru, bisa kita bicara nanti?"


"T… tapi…" Lusia menatap Rei dengan raut wajah sedikit kecewa. Rei melepaskan cengkraman tangan Lusia dan melangkah lebih dulu pergi meninggalkan ruang kelasnya.


Lusia terdiam memandangi Rei yang kini menghilang di balik pintu keluar. Gloria dan Heru menghampiri sahabatnya itu.


"Ada apa dengannya?" Heru bergumam pelan.


"Sudah, hiraukan dia. Ayo kita ke kantin dan makan siang bersama, makan adalah cara terbaik untuk menaikkan mood. Terutama makanan manis, aku dengar kantin kita memiliki stand kue paling enak yang pernah ada. Ayo ke sana setelah makan siang, kita borong semua kue manis yang ada! Terutama yang ada cokelatnya." Gloria merangkul pundak sahabatnya.


"Benar, aku dengar cokelat bisa menaikkan mood seseorang. Terutama dark chocolate." Heru menimpali. Mereka dua berjalan menggiring Lusia keluar dari dalam kelas.


Gloria hanya berusaha untuk menghibur sahabatnya agar tidak sedih seperti itu.


Sepanjang perjalanan menuju kafetaria untuk makan siang bersama, Lusia tak henti-hentinya memikirkan sikap Rei yang entah kenapa terasa seperti sedang menghindar.


Pertama, dia datang ke sekolah terlambat. Benar-benar tidak seperti Rei yang biasanya, setelah itu saat jam istirahat ini, dia salah pergaulan dan berkata kalau ada urusan mendesak yang hendak ia selesaikan.


Lusia tidak ingin curiga pada Rei atau percaya pada tulisan di artikel yang di bacanya. Namun, dengan sikap Rei yang begini…


...***...