
...***...
"Ini bukan tentang Troy!"
"Lalu apa?" Mila menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Apakah kau percaya dengan manusia super?" Pricilla berucap serius, ia agak berbisik hingga membuat Mila harus mendekatkan kepala ke arahnya.
"Manusia super? Memangnya kenapa?" Mila menanggapi dengan wajah serius.
"Kau pasti tidak akan percaya, kalau aku katakan aku baru saja bertemu dengan manusia super."
"Huh? Benarkah?"
"Iya."
"Lalu? Apakah dia memakai pakaian menggelikan dengan ****** ***** di luar?" Mila meledaknya. Tentu saja ia sama sekali tidak percaya dengan hal-hal fantasi seperti itu.
"Apakah dia menyelamatkanmu di saat kau kecelakaan lalu kau penasaran dengan sosoknya di balik topeng? Lalu kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya?" Mila semakin berbicara ngawur.
"Aku serius!" Pricilla kesal jadinya.
"Hahaha, lagipula kau ini aneh. Hal-hal seperti itu tidak ada di dunia nyata. Manusia super dan lain semacamnya hanya ada di buku komik dan film-film fantasi."
"Tapi aku sungguh bertemu dengan manusia super. Aku menabraknya tapi dia baik-baik saja, padahal tubuhnya berlumur darah! Apakah kau tidak lihat seberapa parahnya mobilku, tadi?"
"Kau pasti berkhayal! Sudahlah, jangan mengada-ada. Lagipula aku tidak akan tertipu dengan bualanmu itu."
"Tapi Mila, aku sungguh-sungguh."
"Ya, ya. Aku percaya. Sepertinya karena kepalamu terbentur stir, kau jadi berhalusinasi. Sebaiknya kau konsultasi dengan nona Felina, dia adalah psikolog yang handal dalam mengatasi trauma dan halusinasi yang di sebabkan oleh kecelakaan yang kau alami." Mila berbalik menghampiri pintu.
"A… aku sungguh-sungguh!"
Pricilla menghela napas kasar. Ia juga sebenarnya merasa kalau semua itu tidaklah masuk akal, tapi apa yang terjadi padanya benar-benar membuatnya berpikir melawan ketidak masuk akalannya.
...*...
Rei merebahkan tubuhnya di atas sofa kamarnya. Ia baru saja selesai makan malam, dan hendak mengerjakan pekerjaan rumahnya.
"Ponselku benar-benar hilang, sepertinya aku memang harus membeli ponsel baru," gumam Rei.
Sudah berjam-jam ia mencari ponselnya, namun ia sama sekali tak menemukannya di manapun.
"Sepertinya jatuh saat aku di tabrak mobil wanita tadi. Arghh, malam ini aku tidak akan bisa menghubungi Lusia. Padahal aku sangat ingin mendengar suaranya sebelum tidur." Rei mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Secepatnya aku harus membeli ponsel baru agar bisa berhubungan dengannya," gumam Rei.
Ia beranjak bangun dari tempatnya terhenyak. Rei menghampiri meja belajarnya dan mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya agar ia bisa lebih tenang karena Minggu depan, ia hanya tinggal mengirimkan tugasnya pada gurunya.
...*...
"Kenapa dia tidak membalas pesanku?" Lusia mengotak-atik ponselnya. Ia sudah mengirimkan pesan berulang kali pada nomor Rei, tapi sama sekali tak ada balasan dari lelaki yang menjadi kekasihnya itu.
"Dia bahkan tidak membaca pesanku tadi siang," lirihnya. Lusia beralih menekan tombol bergambar gagang telpon di sana yang dalam sekejap menampilkan layar panggilan.
Bunyi 'tuut' panjang di lanjutkan dengan suara seorang wanita terdengar, menandakan kalau nomor Rei sedang dalam keadaan tidak aktif.
"Apakah dia lupa mengisi daya ponselnya? Telponnya saja bahkan tidak aktif." Lusia mematikan ponselnya setelah berulang kali berusaha menghubunginya namun gagal.
Sepertinya memang begitu. Lusia menghela napas panjang, ia kecewa.
...***...