
...***...
William melirik gadis yang berdiri sampingnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya memastikan. Gadis itu hanya menggeleng pelan.
"Aku tidak suka jika ada orang yang ikut campur dalam urusanku!" Lelaku itu mengangkat tangannya yang terkepal dan bersiap untuk meninju William.
William yang notabenenya memiliki kemampuan pergerakan cepat, spontan bergeser guna menghindari.
Lelaki itu sampai tersungkur di lantai akibat serangannya yang sama sekali tak mengenai William.
"Oops. Kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan di bawah sana?" William meledeknya.
Lelaki itu mendelik kesal ke arah William. Ia cepat-cepat bangun dan bersiap untuk meninjunya lagi, kali ini William berhasil menangkap serangannya.
William menangkap kepalan tangannya dengan satu tangan, ia kemudian memelintir tangannya hingga membuat lelaki itu kesakitan.
"Arghh!!" Ia mengerang keras.
"Dengar! Aku tidak suka pada laki-laki pengecut sepertimu yang beraninya melukai perempuan lemah seperti dia!" William menghentakkan tangannya hingga membuat lelaki itu kembali tersungkur. Kali ini, lelaki itu berhasil menahan tubuhnya dengan bertumpu pada ranjang di dekatnya.
Ia berbalik dan menatap kesal ke arah William. "Kau… lihat saja! Urusan kita belum selesai, aku akan membuatmu menyesal karena sudah ikut campur dalam urusanku!"
Lelaki itu menunjuknya sambil menatapnya kesal. Sejurus kemudian ia beranjak bangun dan berlalu meninggalkan ruang UKS dengan memegangi tangannya yang terasa sakit.
Kini hanya tinggal William dengan gadis yang ditolongnya di dalam sana.
"Kau sungguh baik-baik saja? Apakah dia melukaimu?" William sekali lagi berusaha memastikan.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantuku." Gadis itu tersenyum simpul ke arahnya.
"Bukan masalah. Lagipula aku tidak suka melihat ada laki-laki yang melukai perempuan."
"Huh? Kau terluka?" Perhatian gadis itu mendadak beralih pada luka yang berada di sekujur tubuh William.
"Apa yang terjadi denganmu? Kau baru saja bertengkar dengan seseorang?" tanyanya cemas.
"Oh, itu… hanya sebuah kecelakaan kecil. Tapi aku tidak apa-apa," ujarnya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kau terluka sangat parah. Ayo duduk, aku akan membantu mengobati lukamu." Gadis itu menarik tangan William.
"Tidak perlu. Aku bisa mengobatinya sendiri."
"Tidak apa-apa. Ayo!" Gadis itu memaksanya untuk duduk di salah satu ranjang yang ada sementara ia mulai sibuk mencari kotak P3K dan mulai mengobati luka William yang begitu parah.
William terdiam ketika dengan cekatan gadis itu mengobati lukanya. Mengoleskan obat merah pada lukanya, lalu menutupnya dengan plester.
"Selesai." Gadis itu tersenyum saat akhirnya ia selesai mengobati dan membalut seluruh luka yang ada di tubuh William.
"Terima kasih." William balas tersenyum ke arahnya.
"Anggap saja ini sebagai balasan karena kau telah membantuku."
William terdiam memandangi gadis itu yang baru ia sadari memiliki wajah yang cantik dengan senyuman yang manis.
Drrrtt…
Fokus William tersita saat ponselnya bergetar. Ia mengeluarkan benda berbentuk persegi itu, dan melihat pesan yang baru saja masuk.
Sementara itu, gadis tadi bergerak membereskan seluruh alat-alat kesehatan yang ia gunakan untuk mengobati luka William lalu menaruhnya kembali ke tempat yang seharusnya.
William melihat ponselnya. Ada pesan masuk dari Calvin dan Jack yang tampak tengah mencemaskan dirinya karena mendadak menghilang setelah kelas olahraga.
"Sepertinya aku harus pergi."
...***...