Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 370 - Quality time



...***...


Rei tiba dengan menggunakan jaket yang dipinjamnya dari Heru yang tak sengaja bertemu di jalan saat hendak mengejar Lusia.


"Dengarkan penjelasanku dulu," kata Rei.


"Aku tidak ingin bicara denganmu." Lusia beranjak, namun lebih dulu Rei menangkap pergelangan tangannya, menahan langkah gadis itu untuk beranjak.


"Aku mohon, dengarkan penjelasanku dulu. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Aku tidak ingin seperti ini," ujar Rei, masih dengan nada lembutnya.


Lusia masih menyembunyikan tangisnya dari lelaki yang jadi kekasihnya itu.


"Tadi aku hendak menemuimu dan Gloria di kantin, tapi tidak sengaja aku bertabrakan dengan Melinda hingga membuat minuman yang di genggamnya tumpah membasahi pakaianku. Dia berusaha membantuku mengeringkannya, aku sudah melarangnya. Tapi dia memaksa dan menarikku hingga ke ruang UKS. Lalu seragamku rusak karena Melinda memaksaku melepas seragam yang aku kenakan," jelasnya panjang lebar.


Lusia terdiam tanpa kata. "Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya," tuturnya.


Lusia menoleh pada Rei. Wajahnya masih berlinang air mata. Rei mendekat sedikit padanya hingga posisi mereka hanya berjarak tiga puluh centimeter.


Rei mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata yang membasahi wajah gadis itu.


"Sungguh kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya?" tanya Lusia.


"Sungguh," jawab Rei.


"Bagaimana kalau kau berbohong? Aku 'kan tidak tahu apakah kau bicara jujur atau tidak."


"Kalau kau tidak percaya, tatap mataku. Aku tidak akan mungkin bisa menatapmu kalau aku berbohong."


Lusia mendongak menatap iris matanya. Menyelam lebih dalam di antara indahnya manik mata lelaki itu.


"Kau sudah percaya?"


Lusia mengangguk pelan. Rei menarik tubuh Lusia dan memeluknya. "Maaf sudah membuatmu salah paham," lirihnya. Lusia hanya diam, membalas pelukan Rei.



...*...


Kegiatan hari Minggu mereka di mulai dengan melakukan olahraga bersama di pagi hari, di lanjutkan dengan pergi ke kafe dan menikmati hari yang indah di sana sembari mengobrol.


"Sudah aku bilang, kami juga membutuhkan waktu untuk quality time bersama!" Elvina menegaskan pada Leon. Menutup telponnya sepihak.


Elvina beralih fokus makan minumannya, meneguk isinya hingga tinggal tersisa tiga perempat.


"Kenapa?" tanya Rei saat melihat sepupunya itu marah-marah.


"Leon terus saja memaksa untuk ikut dengan kita. Padahal sudah lama kita tidak berkumpul bersama seperti ini, karena kesibukan masing-masing," jelasnya.


"Begitu rupanya."


"Aku sudah memintanya untuk memberikan kita waktu menikmati quality time. Tapi dia terus saja menelpon," tambahnya.


"Oh, omong-omong Will. Kenapa kau tidak menjelaskan padaku kalau ada masalah di sekolahmu? Kenapa kau menyembunyikan semua itu?" Elvina mengalihkan topik, menetap adiknya yang duduk bersebelahan dengannya.


Rei ikut beralih fokus.


"Kau memiliki masalah di sekolah?" Rei menampakkan raut wajah bingung.


"Ah… itu, apakah kak Leon memberitahumu apa yang terjadi?" William nampak bingung.


"Ya." Elvina mengangguk.


"Ada masalah apa?" tanya Rei yang masih bingung.


"Hanya sebuah kesalahpahaman," ucap William yang kemudian menjelaskan apa yang terjadi padanya saat di sekolah dan menjelaskan secara mendetail mengenai duduk permasalahannya dengan Anton.


"Begitu rupanya." Rei menanggapi, meraih gelasnya lalu meneguk jus miliknya.


"Tapi setelah itu, aku tidak pernah melihat Anton lagi di sekolah, aku dengar dia pindah," tutur William.


...***...