Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 355 - Gadis ruang UKS



...***...


Jam istirahat tiba. William seperti biasanya pergi ke kantin dengan Calvin dan Jack, kedua teman terbaiknya.


Setelah membeli apa yang mereka mau, mereka bertiga duduk di sebuah meja terbuka di dekat kantin. Letaknya berdekatan dengan taman samping sekolah mereka.


"Kalian tidak lupa dengan latihan hari ini 'kan?" Calvin melahap makanannya, menatap bergantian kedua temannya itu.


"Tentu saja tidak," sahut William.


"Aku juga tidak lupa." Jack menimpali.


"Omong-omong aku dengar beberapa Minggu ke depan akan ada pertandingan terbuka antar klub sepakbola dari beberapa sekolah, bagaimana kalau kita menonton?"


"Fokus saja pada latihan kita! Kita juga akan menghadapi pertandingan 'kan?!" ujar Calvin berusaha mengingatkan Jack.


William sibuk mengunyah makanannya, ia menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ucapan si jangkung yang jadi temannya itu.


"Ah, sangat di sayangkan. Kalau saja kita tidak punya pertandingan, aku tidak akan mungkin melewatkannya. Padahal aku sangat ingin melihat." Jack merungut.


Calvin menggeleng pelan menanggapi temannya yang satu itu.



Calvin beralih fokus pada William yang memperhatikan Jack yang murung.


"Oh ya Will, akhir-akhir ini aku lihat kau berangkat dengan di antar mobil. Apakah kakakmu yang cantik itu membeli mobil?" Calvin mengalihkan pembicaraan.


"Benarkah?" Jack menoleh pada William.


"Tidak. Itu bukan mobil kakakku, tapi mobil milik kak Leon. Dia mengantarkan aku dan kakakku setiap pagi, lalu mengantarkan kakakku pulang juga," jelasnya.


"Siapa dia? Apakah dia pacarnya?"


"Wah, benarkah kakakmu sudah memiliki kekasih? Dia sangat cantik, aku ingin tahu bagaimana lelaki yang menjadi kekasihnya," ucap Calvin.


"Kak Leon orang yang tampan, baik, ramah, selain itu mudah akrab, dan juga cukup perhatian. Selain itu, latar belakangnya juga tidak buruk." William kembali melahap makanannya.


"Aku ingin melihat orangnya secara langsung."


"Aku juga penasaran." Jack menimpali. "Apa kau tidak memiliki fotonya?" sambung Jack.


"F… foto? Tidak, aku tidak punya." William menggeleng pelan. Ia memang tidak memiliki foto Leon, tapi sebenarnya bisa saja William mencari foto calon kakak iparnya itu di internet, secara lelaki itu sangat terkenal dan merupakan salah satu pengusaha terpandang yang namanya selalu ada dalam kolom pencarian di internet.


Tapi William tak ingin melakukan itu, ia hanya tidak ingin membuat kedua temannya terkejut dengan siapa calon kakak iparnya, terlebih ia tidak ingin dianggap sombong.


"Ah, sangat di sayangkan." Calvin kecewa.


"Kapan-kapan, aku akan menunjukkannya secara langsung pada kalian."


"Sungguh?"


"Ya. Atau kalau perlu, aku akan memperkenalkan kalian padanya."


"Baiklah, kami tunggu waktunya." Calvin dan Jack kembali fokus pada makanannya, pun William yang kini menghela napas lega karena berhasil menahan diri agar tidak bicara yang sejujurnya.


Atensi William mendadak beralih saat ia menangkap sosok gadis cantik yang beberapa waktu lalu sempat bertemu dengannya secara tidak sengaja.


Gadis itu duduk di salah satu bangku yang terletak di bawah pohon besar yang ada di sana.


William terdiam memperhatikan gadis itu. Ia duduk bersandar pada kursi yang terbuat dari besi bercat putih, kedua matanya terpejam membuat bulu mata lentiknya terlihat jelas, ia tersenyum dengan telinga yang kini tersumbat earphone yang tengah memutar sebuah musik.


Gadis itu… dia, bukankah dia adalah gadis yang aku temui saat di ruang UKS beberapa waktu lalu? pikirnya.


...***...