Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 68 - Amanda



...***...


"Namaku Kevin, salah satu evolver yang berhasil melarikan diri dari laboratorium. Sama seperti kalian."


"Aku Elvina." Elvina berjabat tangan dengan Kevin.


"Senang berkenalan denganmu." Kevin tersenyum simpul. Elvina lalu beralih pandang pada wanita berjilbab yang sejak terakhir kali bersama dengan mereka melewati pelarian.


Wanita itu duduk di tepi ranjang Elvina, ia tersenyum ke arahnya sambil meraih tangan Elvina dan menggenggamnya.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kau dan William sudah membantuku melarikan diri dari kejaran mereka. Kalau tidak ada kalian, aku tidak akan mungkin bisa bebas dan berada di sini bersama kalian," ucapnya dalam bahasa Inggris. Wanita itu memeluk Elvina erat.


Elvina tertegun, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Yang di tangkapnya hanya kata terima kasih yang mampu menjelaskan semuanya.


Elvina tersenyum lalu membalas pelukannya. "Aku benar-benar senang karena masih berada dalam perlindungan Tuhan," bisiknya di telinga Elvina. Namun, Elvina kali ini sama sekali tidak mengerti dengan ucapannya yang terus menggunakan bahasa Inggris yang memang diluar kemampuannya.


Mereka melerai pelukannya, terdiam sejenak sambil beradu pandang satu sama lain.


"Dia sangat berterima kasih padamu, dan dia juga bersyukur karena masih berada dalam perlindungan Tuhan," jelas Kevin yang mengerti Elvina kurang paham dengan ucapan wanita itu.


"No problem," kata Elvina.


"Omong-omong namaku Amanda." Wanita itu menyodorkan tangannya ke arah Elvina. Memperkenalkan dirinya.


"Aku benar-benar senang bisa dipertemukan denganmu."


"Aku juga," sahut Elvina. Kalau hanya perbincangan ringan seperti ini, Elvina mengerti. Karena ada beberapa kata yang familiar di telinganya yang selama ini dipelajarinya ketika duduk di bangku SMA. "Omong-omong kau tidak bisa berbahasa Indonesia? Darimana kau berasal?" tanya Elvina.


"Aku tidak bisa berbahasa Indonesia. Asalku dari London, Inggris," tuturnya dalam bahasa Inggris. Elvina manggut-manggut mendengar ucapannya. Setidaknya dua kata di belakang kalimatnya mampu ia pahami.


Itu berarti, dia adalah salah satu target mereka? Beruntung aku bertemu dengannya, aku dan Will jadi bisa menolongnya. Kalau tidak, mungkin dia sudah berakhir seperti kami… batin Elvina. Ia menundukkan kepala menatap kedua telapak tangannya. Pikiran Elvina malam itu, di penuhi dengan segala sesuatu tentang profesor dan proyek gilanya yang bereksperimen dengan tubuh manusia.



Tak lama, Dorothy membuyarkan seluruh lamunannya. Wanita tua yang menjadi tuan rumah itu, segera memerintahkan para tamunya untuk bersiap tidur karena malam yang semakin larut.


Dorothy pun mengatur segalanya. Ia menempatkan Elvina dan Amanda di dalam satu ruangan yang sama di kamar yang telah di sediakan olehnya. Sementara itu, William tinggal di kamar milik Kevin untuk bermalam. Setelah mengatur semuanya, Dorothy kemudian pergi untuk beristirahat. Bagaimana pun Dorothy mengerti, Elvina, Amanda dan William juga membutuhkan istirahat, apalagi setelah usaha pelarian mereka.


Sepeninggalan mereka, hanya tinggal tersisa Amanda dan Elvina di dalam kamarnya.


Hening dan canggung, itulah yang menyelimuti mereka. Diantara Elvina ataupun Amanda, keduanya hanya diam satu sama lain seraya menatap langit-langit kamar mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirnya masing-masing. Keduanya terlalu bingung harus membicarakan apa, terlebih akan sulit bagi mereka berkomunikasi apalagi mereka tidak terlalu saling mengerti tentang bahasa masing-masing.


...***...