Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 101 - Pulang



...***...


Ini tidak masuk akal, bagaimana air bisa bergerak padahal aku sudah menghentikan waktunya, batin Joe yang berdiri tertatih. Air baru saja surut begitu Rei beranjak dari tempat mereka.


"Apa itu? Dia bisa terbang?" Salah satu evolver melongok menatap Rei yang mampu terbang.


"Kenapa air bisa bergerak? Bukankah kau sudah menghentikan waktu?" Evolver lain menatap ke arah Joe dengan raut wajah bingung. Joe terdiam tanpa menjawab kalimatnya.


"Kejar! Bagaimana pun caranya, kita harus menangkap dia!" Joe berlari dengan di ikuti oleh beberapa anak buahnya di belakang.


Mereka menyerang Rei dengan kekuatannya. Berusaha menghentikan Rei yang kini melayang jauh dari permukaan tanah.


Rei terus bergerak. Ia menggerakkan kakinya dan terus terbang entah kemana. Rei bahkan tidak sadar kalau dirinya saat ini dalam keadaan melayang di udara, yang ia pikirkan hanyalah cara agar bisa bebas dari kejaran mereka semua.


"Argh…" Rei meringis begitu salah satu serangan Joe, berhasil mengenai bagian tubuhnya. Rei nyaris saja jatuh, beruntung ia bisa bertahan dan terus terbang melarikan diri dari orang-orang di bawah sana.



Bzzzttt!


Joe kembali menyerang Rei dengan kekuatannya, dan serangannya lagi-lagi berhasil mengenai Rei.


Rei menghentikan langkahnya. Ia mendarat di salah satu rooftop gedung tak jauh dari tempatnya.


Rei memegangi bagian tubuhnya yang terasa begitu sakit akibat serangan Joe.


Rasanya begitu sakit, dia melukai tubuhku, batin Rei. Ia diam sejenak sambil menahan sakit.


...*...


William membuka pintu rumah pelan. "Rei, aku sudah pulang," teriaknya sambil melepaskan sepatu dan kaus kaki yang melekat di kakinya. William memasukkan sepatunya ke dalam rak yang ada di dekat pintu masuk.


William melangkah masuk. Matanya mengedar ke sekeliling, mencari keberadaan Rei yang entah dimana.


"Benar-benar sepi, apakah Rei sedang tidur?" gumam William begitu dirinya tiba di ruang tengah di tempat biasa Rei menghabiskan waktunya.


Di sana televisinya dalam keadaan mati, dan ruangannya benar-benar hening seperti tidak ada orang sama sekali.


William yang tidak dapat menemukan Rei dimana pun lantas melangkah menuju lantai dua untuk mencarinya.


William mencari Rei di kamarnya, namun lelaki yang menjadi sepupunya itu benar-benar tidak ada di manapun.


"Aneh, dia tidak ada di manapun, apakah Rei keluar? Tapi tidak mungkin dia keluar, Rei saja bahkan tidak tahu jalanan sekitar sini, dan dia tidak memiliki tujuan lain." William terdiam sejenak memikirkan kemana perginya Rei yang tidak dapat ditemukannya.


Atensinya mendadak teralih saat William mendengar suara pintu yang di tutup.


"Itu pasti Rei," tuturnya pelan.


William segera bergerak turun untuk mengecek siapa yang baru saja menutup pintu.


"Rei, kau darimana saja. Aku mencari…" William menghentikan langkahnya begitu melihat siapa yang baru saja tiba.


"Will, kebetulan kau turun, ayo kita makan, aku bawakan makanan untuk kita. Oh, panggil Rei juga." Elvina mendongak menatap adiknya yang berdiri di sana. Wanita itu tiba dengan beberapa kantong plastik besar berisi makanan yang kemudian ditaruhnya di atas meja di ruang tengah.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja?" Elvina kembali melirik adiknya yang hanya diam saja.


"Aku kira, kau Rei," gumamnya.


...***...