
...***...
Lusia menaikkan alisnya, dengan wajah merah. Emosinya naik sampai ke ubun-ubun melihat Rei yang memperhatikan gadis di sampingnya dengan tatapan seperti itu.
Kakinya bergerak menendang kaki Rei di bawah sana. Rei spontan terkejut dan menoleh ke arah Lusia yang baru saja menendangnya kencang. Lusia menampakkan wajah kesal.
Rei tersenyum simpul. Ia paham betul bagaimana perasaan Lusia ketika gadis itu menampakkan raut wajah kesal seperti ini.
"Jangan salah paham, aku melihatnya karena aku merasa pernah bertemu dengannya," ujar Rei menjelaskan. Lusia tertegun, ia tidak menyangka kalau Rei bisa dengan jelas membaca raut wajahnya.
Perhatian semua orang spontan beralih pada Rei yang baru berucap. Gadis di sampingnya melirik ke arah Rei.
"Oh, benar! Kau adalah lelaki di koridor tadi 'kan?" Ia bereaksi, membuat yang lainnya berubah bingung.
"Kalian sudah bertemu?" tanya Gloria mewakili yang lain.
"Oh, itu… tadi saat hendak ke kelas. Aku secara tidak sengaja menabraknya." Gadis itu terkekeh pelan.
"Begitu rupanya." Gloria manggut-manggut. Lusia mengubah air mukanya, ia merasa tenang setelah mendengar ucapannya.
"Lihat?" Rei menatap Lusia. Gadis itu berubah malu.
"Omong-omong kita belum kenalan. Namaku Melinda, siapa namamu?" Gadis itu menyodorkan tangannya ke arah Rei.
"Rei. Namaku Rei," tuturnya sambil menjabat tangan gadis itu.
Melinda menatap Rei dengan mata berbinar, akhirnya ini adalah sentuhan pertamanya dengan Rei. Hanya bersentuhan tangan dengannya saja, membuat hati Melinda berdebar.
Melinda semakin yakin kalau ia benar-benar telah jatuh cinta dengan Rei. Ia bahkan tak bisa mengendalikan debaran jantungnya.
"Kita juga belum berkenalan. Namaku Andrich." Kini giliran lelaki itu yang mengulurkan tangannya pada Rei. Rei membalas uluran tangannya, berjabat tangan dengan lelaki itu sambil memperkenalkan namanya.
"Benarkah?" Rei menatap ke arahnya dengan raut wajah terkejut.
"Ya, mereka siswa baru yang kemudian masuk di kelas yang sama dengan kita." Gloria menimpali.
"Benar-benar sebuah kebetulan kita berada di kelas yang sama." Melinda terkekeh pelan mengingat kebetulan yang berjalan seperti di rencanakan sebelumnya.
...*...
Bandara Gardermoen Oslo, Oslo-Norwegia.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama delapan belas jam perjalanan menggunakan pesawat terbang dari Jakarta-Indonesia ke Oslo-Norwegia, Derek dan Pricilla akhirnya tiba di bandara Gardermoen Oslo.
Keduanya bergegas keluar dari bandara dengan tas di punggungnya. Derek dan Pricilla benar-benar di buat tidak tenang karena mereka takut ada orang yang mengenali mereka. Terutama para evolver di sana yang bisa saja secara tidak sengaja bertemu dengan mereka.
Derek membawa Pricilla menuju keluar. Tiba di luar bandara, Derek segera mencari taksi kosong yang selanjutnya akan mengantarkan mereka ke tempat tinggal Jessy yang tak lain adalah kekasih dari Nils.
Pricilla diam termangu di kursi yang ia duduki. Di sampingnya, Derek sibuk mengecek ulang semua uang yang telah ia tukarkan di money changer beberapa saat yang lalu, dari yang rupiah menjadi uang krona Norwegia.
Wanita itu menoleh pada Derek saat menyadari lelaki itu begitu sibuk menghitung semuanya.
"Sekarang kita kemana?" tanya Pricilla setelah terdiam beberapa saat.
"Kita akan pergi ke rumah Jessy, dia adalah kekasih dari temanku."
...***...