Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 253 - Kau suka Lusia?



...***...


Tukk!


Lusia mendongak saat melihat ada nampan lain yang di taruh bersamaan dengan nampan miliknya.


"Aku boleh duduk bersama kalian 'kan?" tanya Rei pada Lusia dan Gloria yang baru tiba di sana.


"Tentu saja, ayo duduk bersama." Gloria mempersilahkan. Gadis itu duduk lebih dulu diikuti oleh Rei dan Lusia, tak lama Heru ikut bergabung dan duduk berhadapan dengan Gloria.


Semenjak kejadian di ruang UKS waktu itu, entah kenapa Lusia merasa kalau Rei agar sedikit aneh. Khususnya beberapa hari terakhir, sikapnya berubah menjadi sedikit lebih lembut dari sebelumnya.


Ada apa sebenarnya dengan Rei? Aku merasa kalau selama beberapa hari terakhir sikapnya agak aneh, pikir Lusia.


Ia menggeleng pelan berusaha tak memikirkannya. Ia lebih memilih fokus pada makanannya.


"Ini adalah hidangan yang paling aku tunggu-tunggu di setiap hari Rabu dan Kamis." Heru menatap makanan dihadapannya berbinar.


"Aku juga sangat suka dengan menu ini. Ah… andai saja mereka memasaknya tiap hari." Gloria menyahut sembari tersenyum simpul.


"Kau tahu kenapa mereka tidak menyediakan ini setiap hari?" Heru mendadak melemparkan pertanyaan retoris.


"Tidak. Kenapa memang?"


"Karena kalau setiap hari menu yang sama. Orang-orang pasti akan bosan, selain itu bisa-bisa hanya kita berdua saja yang makan."


"Haha, kau ada benarnya juga. Sudahlah, ayo makan."


Gloria dan Heru kembali fokus melahap makanan yang ada dihadapannya. Dengan rakus, mereka makan terburu-buru sampai nyaris tersedak.


Rei hanya diam. Ia sejak tadi sama sekali tidak menyentuh makanannya dan lebih fokus menatap wajah Lusia.


Setelah apa yang ia lakukan di ruang UKS, dan kejadian beberapa hari setelahnya, Rei akhirnya sadar kalau ia suka dengan gadis yang sering berbicara ketus padanya itu.


"Rei? Kenapa kau menatap Lusia begitu?" tegur Gloria yang dalam sekejap membuat Rei tersadar dari lamunannya.


"Kau sejak tadi tak memakan makananmu dan terus fokus pada Lusia. Apakah kau menyukainya?" tanya Gloria lagi.


Lusia berusaha tak menghiraukan ucapan sahabatnya dan memilih untuk kembali pada makanannya.


"Iya," jawab Rei membuat Lusia tersedak saking kagetnya.


"Uhuk… uhuk…" Lusia terbatuk. Ia menepuk-nepuk dadanya.



Rei yang melihat itu spontan bergerak menyodorkan minuman ke arahnya. Lusia tanpa pikir panjang langsung menyambar gelas yang ia berikan lalu meneguknya hingga tandas.


Sementara itu, Gloria dan Heru terkejut dengan jawaban yang Rei berikan. Keduanya beradu pandang dengan raut wajah tak percaya.


Mereka kembali menatap Rei yang baru berujar. Rei terlihat mencemaskan Lusia, kini lelaki itu bahkan sedang berusaha membantu mengatasi Lusia yang sedang tersedak.


"Kau baik-baik saja? Apakah sudah lebih baik?" tanya Rei cemas.


"Aku sudah mulai merasa baik," gumam Lusia.


"Sungguh? Apakah kau yakin?" Rei masih berusaha memastikan. Lusia mengangguk sebagai jawaban.


"Tunggu! Apa yang kau ucapkan tadi, Rei?" Gloria berusaha memperjelas ucapan Rei yang terakhir.


"Huh?" Rei menoleh ke arahnya.


"Kau bilang, kau suka dengan Lusia?" Gloria memastikan. Rei diam dengan wajah polosnya, ia benar-benar tidak sadar kalau dirinya baru saja berkata seperti itu.


"Benarkah aku berbicara seperti itu?" tanya Rei.


"Oh, ayolah jangan pura-pura."


...***...