
...***...
Blam!
Pintu di tutupnya dengan sedikit keras hingga meninggalkan bunyi. Andrich baru saja akan beranjak menuju ruangannya guna membuat rencana untuk bisa menangkap Lusia dan Rei secepatnya.
Belum sampai satu langkah, ia sudah terhenti saat mendapati Melinda berdiri di depan pintu sambil bersandar di dinding.
Wanita itu mengenakan kostum khasnya, pakaian super ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Andrich berusaha menghiraukan wanita itu, tapi Melinda lebih dulu menahannya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Andrich dengan wajah datar saat Melinda berdiri tepat dihadapannya.
"Aku mendengar semuanya."
"Kau menguping pembicaraanku dengan tuan?"
"Tidak. Aku hanya tidak sengaja mendengarnya."
"Lalu, apa yang kau inginkan setelah kau tahu apa yang kami rencanakan?"
"Aku ingin kau bekerjasama denganku seperti tawaranku yang sebelum-sebelumnya!" Tangan lentiknya bergerak, mengusap dada bidang pria itu yang kini hanya diam dengan tatapan datar yang sama.
"Aku tidak tertarik." Andrich mencengkram tangannya, dan menajamkan pandangannya. "Dan jangan sentuh aku!"
"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Mungkin beberapa waktu lalu aku menyerah karena aku masih memiliki kesempatan untuk menjalankan tugasku, tapi kali ini aku tidak akan menyerah begitu saja!" Tangannya yang lain, bergerak di bawah sana. Mengusap sesuatu yang sejak tadi terbungkus celana hitam panjangnya.
Andrich sedikit tercekat. Ia menangkap tangan Melinda cepat dan mencengkramnya erat.
"Jangan sentuh aku, atau kau akan menyesal sudah membuat nafsuku memuncak!" tukasnya penuh penekanan.
Melinda mengeluarkan smirk-nya. "Bukan aku yang akan menyesal, tapi kau yang akan menyesal karena sudah menolak tawaranku untuk bekerjasama sampai aku harus melakukan cara ini. Akan aku perlihatkan seberapa ahlinya aku untuk mengubah keputusan seseorang." Melinda menarik Andrich tanpa basa-basi, membawanya menuju ruangan miliknya.
Aku akan menyesal? Kita lihat saja siapa yang akan menyesal nantinya. Andrich membatin. Pria itu tak tinggal diam. Melinda belum tahu saja seberapa liarnya pria itu kalau libidonya sudah di pancing.
Andrich mengimbangi setiap permainan Melinda.
...*...
"Rei, apakah kau yakin kalau Liana dan Aland bisa di percaya menjaga identitas kita?" tanya William dengan wajah ragu.
"Mereka tidak akan memberitahu siapa-siapa. Percaya saja padaku," ujar Rei.
"Identitas kita sudah terbongkar, tapi kita masih belum bisa mengetahui apa sebenarnya tujuan mereka mencari pria itu," gumam Elvina.
"Dengan adanya kejadian ini, aku semakin yakin kalau mereka memiliki hubungan yang erat, dan kedatangan mereka kemari bukan seperti apa yang Liana jelaskan," kata Rei.
"Memangnya apa yang Liana jelaskan waktu itu? Kalian tidak memberitahuku sama sekali." William masih belum mengerti dengan duduk permasalahan mereka.
"Liana bilang kalau dia datang ke Indonesia untuk menangkap pria itu yang katanya adalah buronan polisi London."
"Benarkah?"
"Tapi aku dan Elvina tidak yakin kalau memang itu tujuannya."
"Kenapa bisa? Memangnya apa yang membuat kalian begitu curiga dengannya?"
"Entahlah, tapi aku memiliki keyakinan kalau dia memang bukan orang biasa," gumam Rei.
"Aku juga merasa seperti itu, terlebih setelah melihat pakaian yang dia kenakan tadi, kalian ingat?" Elvina menimpali ucapan Rei begitu ia ingat dengan pakaian Lucy tadi.
...***...