
...***...
Hening. Begitulah yang kini terjadi. Tidak ada suara yang terdengar sedikitpun selain keheningan yang begitu mencekam.
Malam semakin larut. Rei sudah larut dalam mimpinya. Terpejam di ranjang tidurnya dengan berbalutkan selimut hangat nun tebal miliknya.
Louis terduduk di kursi yang ada di meja belajarnya. Fokus pandang matanya sejak tadi terus pada wajah tenang Rei yang kedua kelopak matanya terpejam. Bulu mata lentiknya tak bergerak sama sekali, menandakan tuannya tidur dengan nyenyak tanpa berniat untuk bangun.
"Aku benar-benar senang karena akhirnya bisa bertemu dengan tuan lagi," gumamnya pelan sambil tersenyum.
Louis benar-benar kehabisan kata-kata untuk menggambarkan perasaan bahagianya, karena pada akhirnya setelah menunggu setahun lamanya ia bisa bertemu dengan Rei lagi.
Buku yang ada di atas meja yang letaknya tepat di sebelahnya membuat perhatian Louis beralih padanya.
Louis menatap buku di atas sana. Ia terdiam, senyuman tiba-tiba pupus dari wajahnya saat ia kembali teringat akan pertanyaan yang Rei ajukan padanya.
"Apa kau tahu apa yang terjadi padaku di masa lalu yang menyebabkan aku kehilangan ingatanku?"
Pertanyaan Rei terus terngiang di benak, Louis tak bisa melupakan kalimat itu sejak beberapa saat yang lalu.
Louis meraih buku di atas meja dan membuka halaman dimana terdapat kertas berisi data dirinya terselip di sana.
"Aku sebenarnya ingin mengatakan semuanya, tapi aku harus benar-benar menunggu hingga tiba waktu yang tepat untuk aku membongkarnya," lirihnya.
...*...
"Arghh!" Rei berteriak seraya refleks bangkit dari ranjang tidurnya.
Louis yang mendengar itu spontan tersentak kaget. Ia bahkan sampai melompat dari sofa tempatnya terduduk.
Rei diam dengan keringat dingin membasahi keningnya, wajahnya pucat pasi dengan jantung yang berdebar hebat.
Rei berusaha menenangkan dirinya dan mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam bawah sadarnya.
Louis terdiam dengan kedua mata menatap Rei. Ia berdiri terpaku di tempatnya. Alih-alih memasang wajah terkejut, Louis hanya menatapnya dengan raut wajah biasa.
Si albino itu menghampiri Rei, menepuk pundaknya pelan guna membuat tuannya tenang.
"Tuan," tuturnya lembut.
Rei mulai tenang, ia mendongak menatap Louis yang berdiri di tepi ranjangnya.
"Tuan pasti bermimpi buruk lagi, kan?" tanya Louis retoris.
"Kau tahu?" Rei melemparkan pertanyaan balik. Louis hanya mengangguk pelan. "Apa sebenarnya mimpi itu? Kenapa mimpi itu terus menghampiri tidurku?"
"Mimpi itu hanya isyarat. Reaksi yang terjadi pada memori otak tuan." Louis menjawab tenang.
"Isyarat? Apakah mimpi ini ada hubungannya dengan masa laluku?"
Louis baru membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Rei, tapi mendadak ucapannya tertahan saat suara ketukan pintu di dengarnya.
Suara itu berasal dari Ella yang berupaya membangunkan Rei dan mengingatkannya kalau hari ini Rei harus pergi ke sekolah.
Rei bingung. Pasalnya tidak biasanya Ella berteriak di kamarnya seperti itu, karena Rei selalu bangun pagi-pagi sekali.
Ia menoleh ke arah jam yang berada di atas meja belajarnya. Rei membulatkan matanya saat sadar jam berapa ini.
Bergegas ia bangun dari tempat tidurnya, berlari menuju kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah
Louis hanya terdiam melihat Rei yang panik.
...***...