
...***...
Brukk!
Rei dapat mendengar tubuh Josh jatuh dengan begitu keras menghantam dasar. Ia memejamkan matanya sebentar lalu kembali membuka matanya. Pupil mata yang semula berubah biru, telah kembali ke warna semulanya.
Rei bangun dari posisinya. Rasa sakit pada tubuhnya tiba-tiba meluap seperti asap dan lenyap bersamaan dengan lukanya yang hilang tanpa jejak.
Aku harus segera pergi dari sini, pikir Rei yang kemudian bergerak menuju arah lain dan melompat dari gedung yang satu ke gedung yang lain lalu terbang menjauh dari tempat Joe dan anak buahnya berada.
"Dia melarikan diri!" teriak salah satu anak buah Joe yang menyadari Rei yang terbang menjauh dari gedung semula.
"Sial! Kejar dia, cepat!" pekik Joe pada anak buahnya yang lain. Mereka segera mengangguk dan berlari mengejar Rei yang terus menjauh dari mereka.
Joe menoleh ke arah dua anak buahnya yang kini membantu Josh bangun. Mereka berdua memapahnya dengan mengalungkan tangannya pada tengkuk mereka.
"Bawa dia kembali ke markas, segera minta bantuan profesor untuk menyembuhkannya," tutur Joe.
"Tapi, bagaimana kalau profesor bertanya apa yang terjadi padanya?"
"Katakan saja ini kecelakaan. Aku tidak sengaja menyerangnya ketika sedang berusaha menangkap Elvina dan adiknya. Kalian temani dia hingga dia sadar. Pastikan dia baik-baik saja, dan pastikan dia tidak menceritakan semua ini pada profesor."
"Baik, kami mengerti." Keduanya mengangguk.
Joe berbalik dan bergegas lari mengejar beberapa anak buahnya yang lain. Yang ia tugaskan mengejar Rei.
...*...
Astaga, Rei… dimana kau sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu dimana pun? batin Elvina. Dirinya resah bukan main karena tidak dapat menemukan Rei dimana pun. Elvina hanya takut Rei melarikan diri lagi seperti dulu.
Elvina dan William terus berjalan mencari keberadaannya. Mereka berpencar untuk bisa menjangkau tempat yang lebih luas.
"Bagaimana?" tanya Elvina begitu adiknya tiba dihadapannya.
"Tidak ada. Aku tidak bisa menemukannya di sana. Bagaimana denganmu?"
"Sama saja. Aku juga tidak bisa menemukannya. Astaga, dia benar-benar membuat kita cemas." Elvina semakin panik, begitu juga dengan William.
"Oh, bagaimana kalau dia di tempat itu…" William menatap kakaknya lekat.
"Tempat… oh! Benar! Kita belum mengeceknya!" Elvina mengerti dengan tempat yang dimaksud olehnya.
"Ayo kita ke sana!"
Elvina mengangguk, ia lantas menggenggam tangan William. Dalam hitungan ke tiga, William menggunakan kekuatannya berlari cepat agar bisa tiba di tempat biasa dulu mereka bertemu. Tempat yang selalu mereka kunjungi sekaligus tempat dimana pada akhirnya Elvina menemukan Rei setelah hilang setahun yang lalu.
William menghentikan langkah kakinya begitu mereka tiba di sana. Keganjilan yang terjadi membuat keduanya beradu pandang dengan raut wajah bingung.
Waktu masih membeku dengan orang-orang di sekeliling yang berdiri bagai patung yang tak dapat bergerak.
Jalanan basah seperti baru saja di terjang hujan besar atau banjir yang membuat air menggenang.
"Apa yang terjadi di sini…" William mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Joe…" lirih Elvina.
"El, lihat!" William berteriak seraya menunjuk ke arah dimana motor milik Rei berada. Motor itu masih berdiri diposisinya dengan keadaan seperti semula, hanya saja bagian tubuh motornya basah kuyup.
Elvina dan William bergerak menuju motor yang dilihatnya. "Bukankah ini milik Rei?"
...***...