
...***...
Brakk!
Elvina berlari menuju gerbang saat mereka tiba di sana.
Leon yang menyadari kekasihnya lari begitu saja, langsung mengejarnya.
Elvina membuka gerbang dan segera melangkah masuk. Tapi mendadak seorang security datang dan menahan langkahnya.
"Tunggu! Anda ini siapa?" katanya sambil menghentikan langkah Elvina.
Elvina terdiam membatu. Jantungnya kali ini dipompa sepuluh kali lipat dari sebelumnya hingga nyaris meledak. Hatinya mencelos, pikiran negatif menghampirinya, dan bersamaan dengan itu, matanya berkaca-kaca.
"Kami kemari untuk bertemu dengan salah satu murid bernama William. Kami ini adalah walinya dan ingin bertemu dengannya," kata Leon mewakili Elvina yang terdiam.
"Oh, kalau begitu maafkan saya. Silahkan masuk." Pria itu mempersilahkan.
Tanpa ba-bi-bu, Elvina langsung berlari masuk ke dalam sekolah dengan mata yang semakin buram. Ia mempercepat langkahnya, melewati koridor yang kini sepi.
Aku harap apa yang aku pikirkan tidak terjadi!
Will, tolong katakan kau masih di sini 'kan?
Kau berhasil melarikan diri 'kan?
Elvina terus berlari menuju arah ruang kelas adiknya. Leon di belakang sana berusaha untuk mengejar Elvina yang berlari begitu kencang hingga membuatnya kesulitan menyusulnya.
"Kek Elvina!" Seorang lelaki menyerukan namanya.
Elvina menghentikan langkahnya spontan dan menoleh ke arah datangnya suara.
Dua orang anak muda seusia William berjalan menghampirinya.
"Calvin, Jack! Kebetulan aku bertemu dengan kalian di sini. Dimana Will?" tanya Elvina dengan wajah panik. Apalagi menyadari keadaan di sekolah adiknya baik-baik saja. Itu artinya ada dua kemungkinan, Joe datang tanpa menghentikan waktu, atau dia sudah datang dan berhasil menangkap adiknya.
"Kami juga sedang mencarinya," kata Calvin.
"Apa?!" Elvina semakin lemas.
"Sejak istirahat tadi, Will mendadak hilang entah kemana."
"Will…" Tubuh Elvina limbung dan hampir jatuh. Beruntung Leon segera menangkapnya.
Joe sudah berhasil menangkapnya? Itu artinya… dia dalam bahaya! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Elvina membatin. Matanya mulai meneteskan air mata.
Calvin menjelaskan semua yang terjadi pada Leon yang masih nampak bingung.
"Tenang dulu. Aku yakin William tidak hilang seperti yang kita pikirkan. Ayo cari sekali lagi, mungkin saja dia pergi ke suatu tempat." Leon berusaha berpikir positif.
"Tapi kami sudah mencari ke setiap sudut sekolah, dan kami tidak menemukannya di manapun," balas Jack.
"Jangan menyerah. Ayo cari lagi!"
Leon memapah Elvina dan membawanya mencari William di sekitar sekolah.
Calvin dan Jack yang sudah nyaris putus asa, lantas mau tidak mau harus kembali mencari William yang hilang entah kemana.
...*...
Rei membuka kedua matanya.
Pandangannya buram untuk sesaat sebelum kemudian ia mengerjap dan pandangannya jelas.
"Tuan…" Louis tersenyum melihat Rei yang telah sadarkan diri.
"Rei!" Lucy dan Aland ikut tersenyum melihat lelaki itu akhirnya sadarkan diri setelah beberapa saat tak sadar.
"Are you okay?" tanya Aland memastikan.
Rei masih berusaha mencerna keadaan yang terjadi. Ia menatap satu persatu wajah yang dilihatnya, sebelum kemudian ia mulai panik setelah ingat akan apa yang terjadi sesaat sebelum dia pingsan.
"Will!" katanya dengan panik sambil bangkit dengan cepat.
Lucy dan Aland kaget bercampur bingung.
"William!" Rei memperjelas. Ia menoleh ke arah Louis yang sama bingungnya.
"William! Kita harus menyelamatkan dia. Joe menangkapnya!"
...***...