
...***...
Suara ketukan pintu kaca ruangannya dalam sekejap membuat atensi Leon beralih. Ia memutar kursi berrodanya sembilan puluh derajat, sampai melihat sosok wanita cantik yang selama ini dikaguminya secara diam-diam.
Elvina Tarissa. Setiap kali menyebut namanya saja, berhasil membuat jantungnya berdebar. Walaupun hanya berbeda dua tahun, tapi tak membuatnya lantas menyerah untuk bisa dekat dan mendapatkan hatinya.
Selama ini, Leon berusaha mendekati Elvina dengan menjebak Elvina terus di dekatnya.
"Masuk," ucapnya dengan suara keras. Elvina yang berdiri di depan pintu lantas mendorong pintu dihadapannya perlahan. Ia melangkah masuk dengan map berisi berkas hasil laporan yang baru saja di print-nya.
"Ini laporan yang bapak minta." Elvina menaruh berkas ditangannya ke atas meja. Leon menatap berkas yang tadi ia berikan kemudian berkata, "Oke, terima kasih."
"Kalau begitu, saya permisi." Elvina berbalik siap untuk melangkah. Tapi Leon lebih dulu menghentikan langkahnya.
"Siapa bilang kalau kau boleh pergi?" Bariton suaranya berhasil membuat Elvina membatu, sekuat tenaga ia menetralkan emosinya dan menjauhkan segala pikiran negatif dari otaknya. Sialnya sulit sekali.
Biar aku tebak. Dia pasti akan menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya aku kerjakan, batin Elvina. Wanita itu berbalik perlahan, wajahnya memaksakan senyum walaupun tampak jelas terlihat hambar.
"Apa lagi yang bapak butuhkan?" tanya Elvina dengan suara lembut yang dibuat-buat.
Leon tersenyum simpul, ia suka ketika melihat wanita itu tersenyum. Baginya membuat Elvina terlihat lebih cantik, sekalipun ia tahu kalau senyuman itu tidak tulus dari hatinya.
Kedua siku Leon bertumpu pada meja kaca yang di tempatinya. "Aku lupa memberitahu sekretarisku untuk membelikan kopi untukku. Jadi, mumpung kau masih di sini, bisakah kau membelikan aku kopi ke coffee shop di ujung jalan?" tanya Leon.
"K… kopi?" Elvina mengulang dengan wajah yang terlihat sedikit terkejut. Sama seperti dugaannya, pria ini pasti menyuruhnya melakukan hal yang diluar pekerjaannya.
"Ya. Aku ingin kau belikan aku Americano, aku tidak bisa memulai pekerjaan tanpa segelas Americano."
"Dia tidak ada. Aku sudah memerintahkannya mengerjakan hal lain, dan dia tidak akan kembali sebelum jam istirahat."
Elvina menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan-pelan agar tidak terdengar Leon.
"Ini uangnya. Kalau ada kembaliannya, kau ambil saja." Leon menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Elvina.
"Baiklah, akan saya bawakan untuk bapak, dan secepatnya saya akan segera kembali." Elvina mengambil uang itu dengan sedikit kasar. Sejurus kemudian ia berbalik, melangkah menghampiri pintu keluar.
"Oh, dan jangan lupa untuk belikan kue untuk camilannya. Ingat, harus kau yang membelikannya untukku, dan jangan berani-beraninya kau menyuruh orang lain untuk membelikannya untukku! Karena aku akan tahu," teriak Leon.
Elvina mendengarnya, tapi tak menjawab. Ia memilih untuk terus berjalan hingga keluar dari ruangannya.
Leon memperhatikan Elvina, tubuh kecilnya menghilang dibalik pintu kaca ruangannya.
Leon tersenyum simpul. "Dia benar-benar manis," gumamnya pelan.
Tiba di luar, Elvina berjalan dengan raut wajah masam. Tangannya menggenggam uang yang baru saja di berikan oleh Leon yang memintanya untuk pergi membelikan kopi di coffee shop ujung jalan kantor yang letaknya cukup jauh.
"Dia benar-benar menyebalkan!"
...***...