
...***...
"Rei!" Seorang gadis menyerukan namanya. Rei menghentikan langkahnya spontan dan menoleh ke arah datangnya suara, di sana. Seorang gadis bertubuh pendek berjalan keluar dari dalam kelas lalu menghampirinya.
"Lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?" tanyanya.
Rei menaikkan sebelah alisnya. Lagi. Ia tidak ingat siapa gadis itu, tapi sepertinya mereka memiliki hubungan yang bisa di bilang cukup dekat, apalagi setelah di telisik dari cara bicaranya.
"Kabarku baik," tutur Rei berusaha menghiraukan pertanyaannya sejenak.
"Wah, lihat dirimu. Sekarang kau sudah semakin tinggi, aku saja sampai kalah tinggi denganmu, padahal dulu kau itu pendek. Dulu kita juga sekelas, tapi sayangnya sekarang tidak lagi. Haha… aku rindu saat menyontek pekerjaan rumah padamu." Gadis itu terkekeh menertawakan apa yang dulu sering ia lakukan.
Rei hanya diam berusaha mencerna setiap kalimatnya, setelah apa yang ia ucapkan, Rei semakin yakin kalau mereka cukup dekat.
"Omong-omong kau mau kemana?" tanyanya membuyarkan lamunan Rei.
"Aku mau pergi ke perpustakaan."
"Baiklah kalau begitu sampai jumpa lagi." Ia menepuk pundak Rei pelan. Rei merasakan hal yang sama ketika ia bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Sengatan listrik kecil.
"Kalau begitu, aku pergi," pamit Rei yang kemudian berbalik dan kembali melangkah.
Dua orang gadis lain dari kelasnya baru saja kembali dari kantin sekolah, mereka bergegas menghampiri gadis tadi saat melihat Rei baru selesai berbicara dengannya.
"Wi, itu Rei?" Gadis yang paling tinggi dengan tubuh ramping bertanya.
"Ya, itu Rei."
"Apa sejak awal dia memang setampan itu, atau aku yang baru menyadarinya?" Yang paling cantik diantara mereka menatap ke arah Rei tanpa berkedip.
"Dia memang setampan itu sejak dulu. Tidak heran kalau sejak SMP dia sering menjadi banyak incaran para gadis. Selain tampan, dia juga pintar, dan baik tentunya," gumam Wika, gadis yang tadi menyapa Rei.
"Sayang sekali dia sudah tidak satu kelas lagi dengan kita. Coba saja kalau dia masih berada di kelas kita, mungkin aku akan lebih semangat untuk pergi ke sekolah."
...*...
"Kenapa kau sendiri? Dimana Rei?" Gloria menatap Heru yang baru saja tiba di meja yang mereka duduki.
"Rei tidak ikut, dia bilang tidak lapar. Sekarang dia menunggu kita di perpustakaan." Heru meraih gelas minumnya lalu meneguknya pelan.
Kenapa dia tidak ikut? Apakah dia tersinggung dengan ucapanku dan Gloria, tadi? Lusia terdiam dalam lamunannya. Sementara Heru dan Gloria sudah menyantap makanannya, beda halnya dengan Lusia yang justru malah diam dan menatap hidangannya saja.
Gloria menoleh pada sahabatnya yang tiba-tiba tampak tak bersemangat.
Ck ck, dia bilang tidak nyaman kalau Rei dan Heru bergabung. Tapi setelah Rei tidak ada, dia malah merana. Aku benar-benar tidak habis pikiran dengan sahabatku ini. Gloria menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau diam saja? Apakah kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Gloria. Heru seketika mengubah fokusnya pada gadis yang baru saja berujar itu.
Gloria menyikut lengan Lusia. Gadis itu seketika tersadar dari lamunannya.
"Huh, apa?" Bingungnya.
"Kenapa kau melamun? Apakah ada yang sedang kau pikirkan?" Ulangnya.
"T… tidak ada, aku tidak memikirkan apa-apa."
"Sungguh? Lalu kenapa kau melamun dan tidak memakan makananmu?"
"Aku baru akan memakannya."
...***...