Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 405 - Hasilnya…



...***...


Tiba di kamar hotel, Lucy dan Aland segera mengganti pakaian mereka dengan pakaian tidur.


Lucy mengambil handsfree miliknya dan memasang benda itu di telinganya.


"Eth?"


"Lucy! Akhirnya. Aku sudah berusaha menghubungimu dan Aland sejak tadi."


"Ada apa?"


"Aku menemukan petunjuk tentang target kalian."


"Benarkah?" Lucy membulatkan matanya.


"Ada apa?" tanya Aland dengan raut wajah bingung saat melihat reaksi Lucy yang begitu berlebihan saat mendengar wanita itu berbicara dengan Ethan.


Aland mengenakan kaos hitamnya lalu menghampiri wanita itu.


"Ethan menemukan petunjuk mengenai target kita."


"Benarkah?" Aland menunjukkan reaksi yang sama.


"Eth, mari bicara lewat panggilan video agar kita bisa mendengar secara langsung penjelasan darimu."


"Baiklah." Ethan menggantinya dengan panggilan video, kini keduanya bisa melihat wajah pria yang selama ini membantunya.


"Sekarang jelaskan pada kami semuanya," ujar Lucy.


"Baiklah, dengar. Aku sudah menemukan petunjuk tentang target kalian. Aku sudah mengecek data dirinya lagi, dan aku melacak latar belakangnya," ujar Ethan.


"Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Lucy.


"Hasilnya…"



...*...


Bel pulang baru saja berbunyi. Rei melangkah menyusuri koridor dengan di temani Lusia seperti biasanya.


Lusia menggenggam tangan Rei erat. Pria itu menoleh pada gadis yang baru saja menggenggam tangannya.


"Apa maksudnya ini?" Rei tersenyum melihat tangannya.


"Apa? Bukankah kau akan mengantarkan aku pulang?"


"Ya, tentu. Tapi bagaimana dengan Gloria dan Heru?" Rei menoleh pada dua orang remaja yang sejak tadi menjadi nyamuk diantara mereka.


"Jangan bicara pada kami, pura-pura tidak kenal saja." Heru menimpali. Keduanya muak karena terus menjadi nyamuk diantara keduanya.


Lusia terkekeh pelan menanggapi kedua sahabatnya.


"Oh, aku baru ingat kalau aku memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang sebelum pulang. Jadi, aku duluan." Gloria beralih fokus pada ponselnya. Ia lantas melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Aku juga lebih baik pulang duluan. Sampai jumpa besok." Heru melambaikan tangan ke arah Lusia dan Rei. Berlalu lebih dulu meninggalkan mereka.


Kini hanya tersisa Rei dan Lusia berdua.


"Sepertinya mereka benar-benar tidak nyaman," gumam Rei melihat kedua temannya berlalu.


"Hiraukan saja." Lusia tersenyum.


Mereka berdua terus melangkah beriringan.


Tiba di halaman depan sekolah, Lusia baru ingat kalau ada sesuatu yang ia tinggalkan. Ia menghentikan langkahnya spontan ketika ia baru ingat akan apa yang ia tinggalkan.


"Astaga, ada yang aku lupakan," ujar Lusia.


"Ada apa?"


"Ada barangku yang tertinggal di kelas. Aku harus mengambilnya dulu." Lusia berbalik.


"Perlu aku temani?"


"Tidak perlu, kau duluan saja dan tunggu aku di tempat parkir. Aku tidak akan lama."


"Sungguh, kau tidak perlu aku temani?"


"Tidak perlu," jawab Lusia.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu di tempat parkir."


"Ya. Aku akan kembali secepatnya." Lusia berbalik dan segera berlari kembali masuk ke dalam gedung sekolah.


Lusia cepat-cepat pergi menuju ruang kelasnya untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.


Sementara itu, Rei terus melangkah hingga tiba di tempat parkir. Ia menunggu Lusia di sana.


Rei menghampiri motornya, ia hendak menunggu Lusia di sana. Belum sempat ia sampai di sana, langkahnya lebih dulu terhenti saat secara tidak sengaja ia menabrak seorang wanita yang berjalan dari arah berlawanan dengannya.


Wanita itu tidak terlalu memperhatikan jalan sampai-sampai menubruknya.


...***...