
...***...
"Bagaimana? Kalian sudah mendapatkan lokasinya?" tanya Rei yang kemudian mengambil duduk di salah satu kursi kosong yang ada.
Di hadapannya, Lucy dan Aland masih sibuk menunggu informasi dari Ethan di London.
Lucy menoleh padanya sekilas sebelum akhirnya menggeleng pelan.
Rei menghela napas pelan, pun William dan Elvina yang sejak tadi duduk bersama mereka.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" gumam Elvina dengan raut wajah bosan. Mereka sudah menunggu cukup lama, bahkan pagi telah berganti siang.
"Kita hanya bisa menunggu," lirih William yang kemudian menyandarkan kepalanya.
"Perutku lapar. Aku akan pergi keluar sebentar. Mencari makanan di supermarket untuk kita makan." Aland beranjak bangun dari duduknya.
Lucy dan Rei hanya mengangguk sementara William dan Elvina melirik padanya.
"Dia mau kemana?" tanya William.
"Mencari sesuatu di supermarket. Dia ingin membeli sesuatu," jawab Rei.
"Aku juga lapar. Aku ingin keluar, tapi kalau aku keluar… bisa gawat kalau ada yang mengenaliku."
"Aku akan mencoba menghubungi Ethan lagi," kata Lucy yang kemudian menyibukkan diri dengan handsfree yang terpasang di telinganya. Bercakap dengan pria di seberang sana guna meminta informasi, berharap lelaki yang jadi rekan sementara mereka itu berhasil menemukan petunjuk mengenai keberadaan Andrich dan Melinda.
"Ethan," panggilnya.
"Ada apa, Lou?"
"Kau sudah mendapatkan petunjuk mengenai lokasinya?"
"Aku masih sedang berusaha. Maaf kalau aku harus membuat kalian menunggu lama, tapi aku akan berusaha semampuku untuk mengeceknya. Entah kenapa, jaringan mereka jadi lebih sulit. Keamanannya di perketat, dan aku cukup kesulitan untuk melacak lokasinya."
"Kalau begitu, segera beritahu kami kalau kau sudah berhasil menemukan keberadaannya."
"Baiklah."
Lucy menutup layar laptopnya.
"Ethan sedang berusaha melacaknya. Untuk sementara waktu, kita alihkan perhatian kita ke hal yang lain. Kita lakukan sesuatu yang menyenangkan agar bisa kita hilang," jelas Lucy.
"Ide yang bagus, aku setuju. Ayo kita bermain sesuatu untuk menghilangkan jenuh. Bagaimana?" Rei menimpali.
"Bolehlah," sahut Elvina dan William serentak. Mereka berempat lalu mulai mencari sesuatu guna menghilangkan bosan menunggu kabar dari Ethan yang sedang berjuang keras melacak keberadaan Andrich dan Melinda.
...*...
Melinda membuka kedua matanya. Tangannya meraba-raba sisi ranjang tempatnya terbaring, mencari sosok pria yang semalam tidur bersamanya.
Begitu menoleh, ia tidak melihatnya di manapun.
Aku harap dia tidak melarikan diri lagi, pikir Melinda yang kemudian beranjak turun dari ranjangnya dengan keadaan tanpa busana.
Ia melangkah menuju kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
Usai berpakaian, ia segera keluar dari kamarnya dan menghampiri setiap ruangan di apartemen yang di sewanya.
"Andrich?" Melinda terus melangkah hingga sampai ke ruang dapur dan mendapati pria itu tengah duduk sambil menuangkan air ke dalam gelas di genggamannya.
Andrich menoleh begitu mendengar suaranya di panggil wanita yang selama akhir-akhir ini menemaninya. Termasuk dalam urusan tidur.
"Aku mencarimu kemana-mana, kupikir kau melarikan diri lagi," ujar Melinda yang kemudian melangkah menghampirinya dan duduk di kursi yang ada.
Andrich hanya diam tanpa menjawab. Pria itu mulai sibuk meneguk minumannya hingga tandas.
Air muka Melinda mendadak berubah saat mendapati wajah pria itu pucat pasi.
"Kau kenapa? Apakah kau sakit? Kenapa wajahmu begitu pucat?" Melinda cemas. Ia bergegas mengecek keadaan tubuhnya.
...***...