
...***...
Suara ketukan pintu menyita perhatiannya. Wanita tua yang terduduk di mejanya itu lantas beralih fokus pada pintu. Tak lama, pintu terbuka dan menampakkan seorang pria berpakaian rapi mengenakan jas. Ia berjalan menghampirinya dengan nampan berisi teh dan beberapa camilan yang dimintanya.
"Ini minuman yang anda minta," ujar pria itu sembari menaruhnya di atas meja.
Wanita itu menurunkan kacamata yang dikenakannya. "Terima kasih, Travis."
Claire Teresa, meraih cangkir berisi teh panas dihadapannya. Ia menyesapnya pelan sembari mengalihkan fokusnya, memutar kursi beroda yang didudukinya hingga menghadap ke arah taman di samping sekolah.
"Maaf, nyonya. Tapi tadi saya melihat nona muda di koridor dekat ruang guru, beliau tampak sedang berdebat dengan salah satu guru." Travis berucap. Claire mengalihkan fokusnya pada Travis.
"Apa? Kau yakin itu Lusia?"
"Benar, saya bahkan melihatnya dengan jelas. Itu benar-benar nona Lusia."
"Kira-kira apa yang ingin dia lakukan? Apakah jangan-jangan dia ingin bertemu denganku?" Claire bergumam pelan. Ia menyesap kembali tehnya dalam, menghirup aroma yang begitu menenangkan.
Claire menaruh cangkir di tangannya ke atas meja lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan menemui dia."
...*...
Isyana sibuk berbincang dengan salah satu guru. Rei duduk di sampingnya tanpa berucap sepatah katapun. Fokus Rei mendadak di sita oleh suara bising yang berasal dari luar. Ia mendengar suara yang cukup familiar di telinganya.
Suara ini… kenapa aku merasa kalau suara ini sangat mirip dengan suara gadis yang tadi aku temui di koridor? Apakah itu benar-benar dia? Tapi, untuk apa dia kemari? Rei membatin, matanya menatap ke arah pintu keluar, ia memang tidak dapat melihat siapa yang sedang berdebat di luar sana. Tapi Rei dapat dengan jelas mendengar suara melengkingnya.
...*...
"Kau tidak boleh masuk! Cepat kembali ke kelasmu!" tukasnya.
"Kau ini keras kepala sekali, bapak akan menghukummu karena kau melawan ucapan bapak!" Kesalnya.
Lusia geram sendiri jadinya, ia menghela napasnya panjang. Pasrah. Mungkin dirinya harus merelakan berada di kelas yang berbeda dengan Gloria.
"Cepat, sekarang kembali ke kelasmu. Sebentar lagi masuk," ucap pria itu lagi.
Lusia menampakkan raut wajah kecewa, ia baru saja hendak berbalik dan pergi dari tempatnya. Tapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara seorang wanita tua yang berteriak menyerukan namanya.
"Lusia!" Claire memanggilnya. Lusia menoleh berbarengan dengan pria itu.
"Nenek!" Lusia tersenyum simpul melihat neneknya keluar dari ruangannya.
"N… nenek?" Pria itu terkejut, ia menatap bergantian Lusia dengan Claire yang tak lain menjabat sebagai kepala sekolah di sana.
Lusia berlari menghampiri Claire, sementara pria itu hanya diam terbelalak. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Lusia memeluk Claire. "Terima kasih karena sudah datang di saat yang tepat," gumam Lusia.
"Nenek dengar dari Travis kalau kau ada di sini, ada apa kau kemari?" Claire melerai pelukannya.
"Aku ingin berbicara dengan nenek."
"Apa yang ingin kau bicarakan? Tampaknya sangat mendesak." Claire menaikkan sebelah alisnya. Lusia mengangguk pelan.
Pria yang sejak tadi melarang Lusia untuk bertemu Claire lalu menghampiri mereka dengan raut wajah malu.
"Selamat pagi, Bu Claire." Ia menyapa Claire.
"Pagi, pak." Claire dan Lusia beralih fokus.
...***...