Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 316 - Kartu



...***...


Louis mengangkat tangan kanannya. Ketiga jemarinya terlipat menyisakan jari tengah dan jari telunjuknya.


Rei menatap Louis dengan raut wajah bingung, entah apa yang hendak lelaki itu lakukan. Tapi selanjutnya, Rei melihat sebuah kartu muncul diantara celah jari telunjuk dan jari tengahnya.


Rei mengerutkan keningnya bingung. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Rei.


Louis memandang tuannya lekat, kedua matanya tampak mengkilat di bawah cahaya lampu malam yang temeram.


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini pada tuan. Tapi, ini hanya satu-satunya cara agar tuan menghukum mereka."


"Apa maksudmu?"


Louis mendekat ke arah Rei, sebelah tangannya memegangi pundak Rei dan memutar tubuhnya hingga tubuh mereka saling berhadapan satu sama lain.


Rei masih tidak mengerti dengan apa yang akan dia lakukan. Selanjutnya Louis mendekatkan wajahnya ke arah Rei, menempelkan keningnya yang kini ditempeli kartu yang menyelip di jarinya.


Louis memejamkan kedua matanya, sementara Rei masih menatap Louis dengan raut wajah bingung.


Tidak lama kemudian, kepalanya terasa sakit. Rei memejamkan kedua matanya dan berbagai adegan mulai bermunculan memenuhi pikirannya.



...*...


Jakarta, Indonesia, tiga tahun lalu.


2016


Minggu pertama setelah resmi sebagai kelas tujuh mereka lalui dengan perkenalan antara murid-murid dan seluruh guru yang nantinya akan mengajar di kelas mereka, lalu sedikit penyesuaian diri antara guru serta para muridnya.


Minggu ini adalah Minggu kedua setelah ia resmi menjadi seorang siswa SMP.


Pukul tujuh pagi, seperti biasa ia berangkat bersama Marcell. Kedekatan mereka sejak SD memang tak pernah di ragukan, sebagian orang yang baru mengenal mereka bahkan sering kali salah beranggapan mereka sebagai kakak beradik karena sering bersama dan tak pernah terpisahkan.


Bayangkan saja, sejak masuk dunia persekolahan. Tepatnya saat Rei pada akhirnya resmi masuk ke taman kanak-kanak, Marcell yang seharusnya menyelesaikan sekolah TK nya. Malah memutuskan untuk tinggal satu tahun lagi karena tahu Rei masuk di tahun itu.


Kebersamaan mereka di taman kanak-kanak berlanjut hingga SD, mereka di tempatkan di kelas yang sama.


Setiap satu kelas selalu terbagi menjadi dua kelas yang di pisahkan berdasarkan kelas A dan B.


Selama enam tahun di SD, mereka berada di kelas B, dengan posisi duduk selalu di satu meja yang sama yang letaknya di paling depan.


Terkadang Rei tidak mengerti kenapa dirinya tak pernah bosan duduk bersama dengannya selama enam tahun.


Namun setelah masuk SMP, akhirnya mereka memutuskan duduk di meja yang berbeda.


Rei yang baru saja tiba di ruang kelasnya seketika teringat bahwa ia belum meminjam buku paket untuk setiap pelajaran hari ini.


Begitu tiba di kelas yang sama, ia menaruh tasnya dan beranjak dari tempatnya.


"Marcell, aku melupakan sesuatu. Apakah kau sudah mengunjungi perpustakaan untuk mengambil buku paket untuk pelajaran hari ini?" Rei menghampiri lelaki itu.


"Huh? Tidak, aku juga belum."


"Kalau begitu, ayo pergi ke perpustakaan bersama."


"Ayo." Marcell bangun dari tempatnya, ia melangkah keluar bersama Rei menuju ruang perpustakaan.


Sialnya perpustakaan belum buka karena pustakawannya yang belum tiba.


...***...