Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 274 - Bintang Utara



...***...


Leon menarik Elvina menghampiri tempat itu dan berdiri di sana.


"Kau menyiapkan semua ini?" Kalimat itu yang pertama kali terlontar dari mulutnya setelah beberapa saat ia kehilangan kata-kata.


"Ya, begitulah. Ayo kemari." Leon menarik Elvina dan memintanya untuk duduk di tengah-tengah kelopak bunga berbentuk hati dengan sekeliling lilin itu.


Di sana sudah ada sebuah alas untuk mereka duduk dengan beberapa hidangan yang terlihat masih hangat.


Elvina dan Leon duduk di tengah-tengah, di atas alas yang telah tersedia.


Elvina hanya bisa tersenyum simpul melihat Leon usaha Leon untuk membuatnya luluh.


Mereka duduk bersebelahan. Leon memberikan makanan yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Makanlah."


Elvina meraihnya. Keduanya duduk bersebelahan seraya menatap lurus ke arah pemandangan indah langit malam berhiaskan bintang-bintang.


"Makanannya benar-benar enak."


"Kau menyukainya?"


"Tentu. Apalagi menurutku ini yang paling enak daripada makan siang dan makan malam terakhir kita, haha." Ia terkekeh pelan.


"Aku senang melihatmu menikmati makanan yang aku berikan." Leon tersenyum simpul.


"Kau juga, makanlah. Ini benar-benar enak." Elvina kembali melahap makanannya.


Leon mengambil bagian yang sedang di nikmati Elvina. "Aku lebih suka kalau kita membagi makanannya, lebih romantis," tuturnya pelan.



"Omong-omong malam yang indah, ya? Apalagi bintang-bintang yang bersinar di sana, membuat malam ini jadi terasa lebih istimewa." Leon menatap langit berbintang.


"Ya, kau benar." Elvina tersenyum. Perhatiannya mendadak beralih saat udara dingin meniup tubuhnya.


Elvina memeluk tubuhnya sendiri. Ia mulai kedinginan setelah menghabiskan seharian dengan pakaian yang tidak terlalu tebal, bahkan ia lupa untuk membawa mantel hangat.


Leon yang melihat Elvina kedinginan lantas melepaskan mantel miliknya dan memakaikannya para Elvina.


"Aku tidak ingin kau sakit," ucapnya pelan.


Elvina terdiam dengan mulut terkatup, matanya beradu dengan Leon yang kini berada tepat di dekatnya.


Tak lama. Ia memalingkan wajahnya cepat saat debar jantungnya membuyarkan segalanya.


Elvina kembali menatap langit malam. "Apakah kau tahu? Sejak kecil aku suka melihat bintang bersama Rei dan William. Kami bahkan memilih satu bintang yang kemudian kami namai, dan tandai sebagai bintang kami," ujar Elvina.


Leon menoleh. "Benarkah?"


"Ya, seperti contohnya bintang di sana. Bintang yang bersinar paling terang, terletak di sebelah Utara dan jauh dari bintang-bintang lain. Itu adalah bintang Utara pilihan Rei."


"Darimana kau tahu kalau itu adalah bintang yang dia pilih? Bukankah semuanya tampak sama?"


"Tidak. Mereka semua berbeda, yang membuat bintang yang kami pilih adalah karena bintang-bintang itu memiliki cahaya yang tampak istimewa." Elvina menoleh sekilas sebelum kembali menatap bintang di langit.


"Bintang Utara itu benar-benar mirip seperti Rei. Dia adalah orang yang dingin, bagaikan kutub. Letaknya yang berada jauh dari bintang lain dan bersinar paling terang, melambangkan sikap Rei yang tak pernah mudah berbaur dengan orang-orang dan selalu menciptakan jalan hidupnya sendiri, selain itu di balik sikapnya yang seperti itu… ia selalu memiliki keistimewaan yang membuatnya berbeda dari yang lain. Keistimewaan yang membuatnya spesial, dan menarik."


Leon hanya diam dan mendengarkan, ia menatap ke arah bintang yang sedang mereka bicarakan. Terletak di bagian Utara langit, dan bersinar paling terang.


...***...