
...***...
Rasanya seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan saat Leon bisa duduk di atas meja yang sama dengan Elvina.
Lelaki itu sejak tadi terdiam dengan kedua mata yang tak lepas memandangi wanita cantik dihadapannya lekat.
Ini memang bukan yang pertama kalinya mereka makan bersama, karena sebelum-sebelumnya Leon dan Elvina pernah makan bersama seperti ini.
Hanya saja yang membuat makan siang ini istimewa yaitu karena Elvina mau menerima tawarannya tanpa ada sedikitpun rasa terpaksa.
Leon benar-benar senang. Saking senangnya, ia sampai tidak tahu harus bagaimana untuk menggambarkan perasaannya.
Tidak apa-apa hari ini hanya makan siang, mungkin besok-besok aku bisa mengantarkannya pulang, pikir Leon. Senyuman sejak tadi tak luput dari wajahnya.
Elvina diam tertunduk. Pandangan sejak tadi tertuju pada hidangan makanan yang ada dihadapannya.
Enak. Sudah pasti. Karena Leon adalah orang yang sangat pintar dan handal dalam mencari tempat makan yang nyaman dengan hidangan yang enak-enak.
Elvina bahkan benar-benar menikmati setiap suapannya. Sangat.
Fokus Elvina beralih. Ia melirik Leon lewat ujung bulu mata lentiknya. Sudah sejak menit-menit terakhir, Leon terus memperhatikannya sambil tersenyum.
Dan Elvina mulai merasa semakin ketakutan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Leon saat ini. Bisa saja lelaki itu tengah membayangkan bagaimana kejadian saat dirinya di depak dari perusahaan hingga tidak memiliki pekerjaan, mengemis-ngemis agar kembali di terima dan setelah itu berakhir menjadi boneka suruhannya.
Elvina bergidik membayangkannya. Ia tidak akan pernah sudi jika sampai semua itu terjadi.
Apakah aku harus bicara sekarang? pikir Elvina setelah memandangnya cukup lama.
Elvina mulai membuka suara. Leon tak bergeming, ia seketika mengubah air mukanya. "Apa yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja," tuturnya sambil tersenyum.
"Apakah saya telah berbuat salah pada bapak?"
"Seingatku tidak ada. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Leon mengerutkan keningnya bingung, ia tidak mengerti kenapa Elvina tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Saya hanya merasa tidak nyaman dengan sikap bapak akhir-akhir ini yang tidak seperti biasanya. Jadi saya pikir, apa mungkin saya melakukan kesalahan yang telah membuat bapak kesal, hingga membuat sikap bapak berubah seperti ini pada saya. Kalau saya memang memiliki kesalahan, saya ingin minta maaf." Elvina menundukkan kepalanya.
Leon speechless jadinya. Ia tidak menyangka kalau ternyata sikapnya yang berubah drastis untuk menarik perhatian Elvina, justru malah membuat wanita itu salah paham dan mengira dia telah berbuat kesalahan. Leon menghela napas pelan.
Ternyata kau itu benar-benar polos dan tidak peka, pikir Leon.
Pria itu kini memandangi Elvina lekat. Kali ini lebih intens dari sebelumnya.
Leon meraih tangan Elvina dan menggenggamnya, hal itu sontak membuat Elvina tertegun. Ia bahkan sampai refleks mendongak dengan wajah terkejut.
Mungkin ini sudah saatnya, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk aku memperjelas semuanya. Leon memantapkan hati.
"Kau tidak memiliki salah apa-apa denganku. Sikapku berubah karena aku sadar bahwa apa yang selama ini kulakukan padamu itu membuatmu tidak nyaman. Aku selalu memerintahmu melakukan hal yang tidak seharusnya."
...***...