
...***...
Lusia terdiam di tempat parkir, berdiri di dekat Rei yang kini sibuk menyiapkan motornya.
Orang-orang menatap Lusia yang bersama dengan Rei. Beberapa diantara mereka menatap kearah yang dengan tatapan iri, bahkan sampai ada yang berbisik membicarakan mereka.
"Naiklah!" tutur Rei pada Lusia. Gadis itu mengangguk lalu naik ke atas motornya.
"Pegangan, nanti kau jatuh." Sekali lagi Rei berucap.
"Aku sudah berpegangan. Cepat jalan saja!" tukas Lusia.
Rei menghela napasnya pelan. Kedua tangannya bergerak meraih tangan Lusia lalu melingkarkan di pinggang.
Wajah Lusia merona. Beruntung tak ada yang sadar, karena ia mengenakan helm.
"Kau akan lebih aman kalau berpegangan seperti ini," ujarnya tenang.
Tak lama, Rei beralih fokus lalu melajukan motornya menuju arah rumah Lusia.
Sepanjang perjalanan, Lusia hanya diam tanpa suara. Ia sibuk memikirkan cara agar detak jantungnya tak disadari Rei.
Beruntung Rei hanya diam walaupun jarak mereka begitu dekat dan ia bisa mendengarkan jantungnya.
Ini semua seperti mimpi. Ciuman pertama… lalu bisa duduk di atas motormu dengan berboncengan. Memelukmu erat dari belakang, dan berada begitu dekat denganmu. Melaju melintasi jalanan padat, dan terus fokus pada satu jalan tanpa perduli apa yang ada di sekeliling kita. Semuanya… terjadi seperti dalam film-film. Lusia membatin, ia merasa senang bisa merasakan hal ini. Dekat dengan Rei orang yang ia cintai sejak SMP, dan berboncengan dengannya.
Jika ini semua mimpi… maka jangan bangunkan aku sekarang. Biarkan aku menikmati semuanya walaupun hanya dalam mimpi, dan walau hanya sekejap, sebelum aku kembali serta tersadar bahwa sosokmu… terlalu sempurna untukku yang serba kekurangan. Lusia menyandarkan kepalanya pada punggung Rei, ia memejamkan kedua matanya dan berusaha menikmati setiap momennya bersama Rei.
Lusia ingin memanfaatkan semuanya sebelum berakhir.
Rei jelas-jelas bisa mendengar isi hatinya. Ia diam, mencerna setiap kalimat yang terucap dalam benak Lusia.
Jadi benar… selama ini, kau menyukaiku? batin Rei.
...*...
"Sudah aku bilang, aku akan pulang sendiri. Kalian juga pulanglah." William berusaha membuat kedua temannya tenang.
"Baiklah kalau itu maumu. Kalau begitu hati-hati di jalan, dan kalau apa-apa jangan sungkan untuk hubungi aku atau Calvin," kata Jack.
"Ya. Sampai jumpa besok."
William berpisah dengan Calvin dan Jack. Dengan menumpang taksi, William pulang.
...*...
"Aku pulang." William mendorong pintu rumahnya. Melangkah masuk ke dalam sana.
Ia melepaskan sepatunya sebelum akhirnya melangkah masuk.
"William!" Elvina berlari begitu melihat adiknya akhirnya pulang. Ia memeluknya erat, rasa cemasnya sejak tadi akhirnya terobati.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Aku sangat cemas denganmu," bisik Elvina tepat di telinganya.
William melerai pelukannya dan menatap kakaknya dengan raut wajah bingung. Ia menatap Elvina dari atas sampai bawah.
Wanita itu kini berbalutkan perban, dari yang dilihatnya. Ia sama-sama terluka sepertinya.
"Kau kenapa? Kau juga terluka?" tanya William cemas.
"Ya. Aku bertemu dengan Joe lagi, dan dia ternyata menjebakku. Dia berusaha mengulur waktu agar anak buahnya bisa menangkapmu."
"Benarkah? Kau sampai terluka seperti ini?"
"Tidak apa-apa. Hanya luka kecil," ujarnya.
...***...