Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 548 - Hormon



...***...


"Dilihat dari lokasi tempat Andrich dan Melinda berada, mereka berada di tempat dekat pelabuhan. Selain itu, kalau memperhitungkan jarak antara rumah Nils yang sekarang kami tempati, juga cukup dekat dengan pelabuhan." Lucy menatap layar laptopnya.


"Tidak ada pergerakan lagi dari mereka, sepertinya mereka sedang beristirahat dan memang berencana untuk tidak pergi." Aland menjawab di seberang sana.


Ironis memang. Keduanya berkomunikasi lewat handsfree yang terpasang pada telinga masing-masing padahal berada di dalam satu rumah yang sama dan hanya terpisahkan oleh satu dinding saja antara kamar yang di tempati Lucy dan Aland.


Walaupun begitu, mereka melakukan ini agar tidak terlalu membuat Nils selaku pemilik rumah merasa terganggu atau bahkan curiga dengan tujuan mereka datang ke Tarakan ini.


"Kita tidak boleh lengah. Bagaimanapun caranya, kita harus bisa menangkap mereka. Hanya dengan itu cara agar kita bisa menemukan Am, dan target utama kita!" Lucy mengepalkan tangannya erat.


Semuanya sudah benar-benar berada di depan matanya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, dan mereka akan berhasil menangkap target mereka.


Apapun yang terjadi, kali ini aku tidak boleh gagal! Lucy bertekad.


"Tapi kita juga tetap membutuhkan istirahat. Lebih baik kau tidur agar kita memiliki stamina untuk besok. Kita tidak akan pernah tahu kapan mereka bergerak lagi 'kan? Maka dari itu, kita harus siap."


"Aku tidak bisa membiarkan mereka barang sedetikpun. Aku tidak ingin sampai kecolongan."


"Lou… kita serahkan semua ini pada Ethan. Karena bagaimanapun, Ethan akan lebih lama terjaga dibandingkan kita. Perbedaan waktu antara Inggris dan Indonesia sekitar tujuh jam. Selama itu, Ethan akan terjaga cukup lama."


"Mungkin kau benar…" gumam Lucy pelan. "Eth, aku serahkan ini padamu. Boleh 'kan?"


Lucy kembali berkomunikasi dengan Ethan di seberang sana.


"Bukan masalah, Lou. Serahkan saja padaku."


"Maaf aku lagi-lagi merepotkanmu."


"Tidak. Kau sama sekali tidak membuatku repot. Aku justru senang bisa ikut dalam petualanganmu, walaupun tidak secara langsung. Ini benar-benar menyenangkan."


"Kalau begitu, terima kasih. Aku berhutang banyak padamu."


"Ya…"


Lucy beranjak dari tempatnya. Ia kemudian melangkah menuju ranjang, mengambil tempat di samping Elvina yang sudah lebih dulu tertidur.


Dengan keadaan handsfree yang masih terpasang, Lucy lantas memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk tidur.



...*...


Andrich meremat sprei yang terpasang pada ranjangnya. Membuat seluruh permukaannya berantakan.


Tubuhnya merasakan panas yang luar biasa, keringat bahkan sampai mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya. Membuat Andrich bak baru saja mandi keringat.


Napasnya memburu, dengan jantung yang berdebar tak karuan.


Beginilah jadinya ketika seluruh sistem hormon pada tubuhnya tidak stabil. Libidonya akan lebih mudah muncul bahkan walau tanpa rangsangan sama sekali.


Sial! Andrich membuka kedua matanya. Mengubah posisi tidurnya terlentang.


Dalam posisinya sekarang, dia bisa melihat dengan jelas benda yang menyembul dari bawah perutnya.


Benda itu amat keras, dan membesar seiring dengan rangsangan yang muncul pada dirinya. Bahkan sebagian kepalanya nyaris keluar dari celana tidur yang dia kenakan.


Aku sudah tidak tahan. Andrich menggerakkan tangannya. Menggosokkannya maju mundur secara perlahan, berharap semuanya mereda. Namun alih-alih merasa lebih baik, gairahnya semakin memuncak hingga membuatnya frustasi.


Andrich bangkit dari tempat pembaringannya. Ia menoleh ke arah Melinda yang tengah tidur.


...***...