
...***...
"Kau membuatku merasa nyaman, Derek. Semakin lama, aku merasa semakin ingin tetap bersamamu. Maka dari itu, maukah kau menjadi kekasihku?" Pricilla mengakhiri kalimatnya.
Derek terdiam cukup lama. Ia sampai dibuat tidak bisa berkata-kata olehnya.
Derek mengatur debar jantungnya agar kemben stabil sebelum akhirnya berkata, "sebenarnya aku juga sejak lama menyukaimu. Tapi aku masih ragu akan perasaanku. Lalu seiring berjalannya waktu… aku mulai menyadarinya bahwa aku juga mencintaimu."
Derek menggenggam tangan Pricilla erat. Kedua manik mata mereka saling beradu satu sama lain.
"Aku… ingin kau tetap bersamaku, Pricilla."
Pricilla tersenyum mendengar ucapan Derek. Hatinya mendadak berseri-seri setelah tahu ternyata bukan hanya dirinya yang selama ini jatuh cinta pada Derek.
"Aku senang mendengarnya, karena ternyata bukan hanya aku yang merasakannya." Pricilla memeluk erat tubuh Derek.
Sejurus kemudian, Derek membalas pelukannya.
"Oh ya, omong-omong ada yang ingin aku bahas. Mumpung aku ingat." Derek mendadak teringat sesuatu.
Pricilla melepaskan pelukannya. "Apa yang ingin kau bahas?"
"Ini mengenai pria yang tidak sengaja menabrakmu di depan pintu rumah sakit. Ingat?"
"Ada apa dengan pria itu? Apakah kau mengenalnya?"
"Tidak. Tapi aku curiga kalau pria itu adalah evolver."
"Huh?" Pricilla menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
"Kalau tidak salah, aku sempat melihat lambang EA pada bagian bajunya."
"Apa?! Jadi maksudmu, pria yang tidak sengaja bertabrakan denganku adalah agen EA dari Inggris?"
"Sepertinya begitu. Maka dari itu, aku jadi cemas. Semalaman ini juga aku terus saja kepikiran mengenai pria itu."
"Gawat, kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Mereka sudah mencium keberdayaan kita hingga kemari." Pricilla mulai resah.
"Kau tidak perlu cemas, aku akan mencari cara agar kita bisa tetap sela…"
Duarr!
Belum sempat Derek menyelesaikan kalimatnya, tubuh mereka sudah lebih dulu terpental hingga menghantam lantai.
Asap tebal dari reruntuhan bangunan menutupi pandangan mereka.
"Arghh…" Derek meringis kesakitan. Ia menoleh ke arah lubang di dinding yang kini tertutupi asap.
"Pricilla…" paniknya. Ia segera bergerak menghampiri wanita itu.
"Pricilla!" panggilnya.
"Uhuk… uhuk…" Pricilla terbatuk. Ia mengibaskan tangan berulangkali berusaha menyingkirkan asap itu dari pandangannya.
Derek berjongkok di dekatnya.
"Kau tidak apa-apa?" Derek menatapnya dengan wajah panik.
"A… aku baik-baik saja," lirih Pricilla sambil mendongak menatapnya.
"Kepalamu berdarah."
"Aku tidak apa-apa," ujar Pricilla yang berusaha bersikap baik-baik saja walaupun rasa sakit menjalar di sekitar kepalanya.
"Gotcha! Kalian tidak akan bisa bersembunyi lagi dariku!" tukas seorang pria yang kini berjalan menghampiri tempat mereka berada.
Sosok siluet di antara asap reruntuhan itu perlahan mulai menampakkan sosoknya.
Derek membulatkan kedua matanya begitu melihat siapa yang kini berdiri di sana dengan kedua tangan yang terkepal memunculkan kemampuannya.
"Kau…"
"Aku sudah mencari kalian kemana-mana. Ternyata selama ini, kalian bersembunyi di sini?" Pria itu mengeluarkan smirk-nya.
"Derek." Pricilla mulai cemas saat melihat agen EA yang sedang mereka bicarakan mendadak muncul dan menghancurkan sebagian dinding laboratorium pribadi milik profesor Ian.
Derek dan Pricilla bangun dari posisinya.
Derek merentangkan tangannya, melindung Pricilla di belakangnya.
"Tetap dibelakangku," bisik Derek.
"Teman-teman, ada apa ini…" Annika.
...***...