Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 315 - Ingatan tuan



...***...


"Berikan aku waktu untuk berpikir!" ujar Pricilla pada Derek.


"Waktumu hanya dua puluh empat jam. Lusa, aku akan langsung pergi ke Oslo."


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." Pricilla beranjak meninggalkan Derek.



...*...


Rei berjalan memasuki ruang kelasnya. Tiba di sana, ia melihat beberapa teman lelakinya yang duduk di meja. Mereka duduk berkelompok sembari menatap ke arah dirinya yang baru saja tiba, beberapa di antara mereka berbisik sambil tertawa menatap ke arahnya.


Rei berusaha menghiraukan mereka dan berjalan terus menuju tempat duduknya yang terletak di meja ketiga dari arah belakang.


Tiba di sana, ia mendapati mejanya tak ada pada tempatnya. Rei terdiam sejenak, ia menoleh ke arah sekelompok lelaki yang duduk di sana. Mereka kini beralih fokus, tidak menatap dirinya seperti sebelumnya.


Kemana mereka menyembunyikannya? pikir Rei yang kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, namun sama sekali tidak menemukan benda itu di manapun.


Rei melangkah keluar dari dalam ruang kelasnya. Di depan pintu, ia bertemu dengan Wika yang juga baru saja tiba.


"Rei?"


"Hai."


"Kau sedang mencari mejamu?"


"Darimana kau tahu?"


"Aku baru saja melihatnya di halaman belakang sekolah."


"Apa?!"


Rei berlari menuju tempat yang di maksudnya. Tiba di sana, ia menemukan mejanya yang kini dalam keadaan penuh di hiasi oleh tulisan-tulisan yang mengejeknya. Yang terbesar bertuliskan sesuatu yang menghinanya sebagai seorang penyuka sesama jenis.


"Huft~" Ia menghela napas pelan berusaha untuk sabar.


Tulisan itu di tulis dengan menggunakan spidol. Setelah membersihkan semuanya, Rei memutuskan untuk membawa mejanya kembali.


Namun di luar dugaan, baru saja ia hendak membawa mejanya kembali. Bel masuk mendadak berbunyi.


Rei hanya bisa duduk di mejanya pasrah. Kalaupun ia kembali ke kelasnya, yang ada dia tetap di minta keluar untuk menjalani hukuman karena masuk terlambat.


Rei menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki dengan kepala menengadah menatap dahan pohon yang kini menutupi tubuhnya dari teriknya matahari.


"Aku tidak mengerti apa salahku sampai mereka begitu benci denganku," lirihnya. Ia memejamkan kedua matanya secara perlahan.


Rei tersentak dan spontan bangun dari tidurnya. Ia duduk di ranjangnya dengan napas yang menderu.


"A… apa itu tadi?" gumam Rei seraya berusaha mengatur napasnya.


"Mimpi?" Rei masih berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.


"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?" Rei mulai merasa tenang. Tangannya bergerak menyapu wajahnya yang entah kenapa terasa basah. Ternyata ia menangis.


"Kenapa aku menangis?" Berbagai pertanyaan mulai menghampirinya. Rei memejamkan matanya.


Louis, panggilnya. Lelaki itu muncul dihadapannya. Rei mendongak menatap Louis yang kini berdiri di tepi ranjangnya.


"Aku baru saja bermimpi, dan aku memimpikan hal yang aneh," ujar Rei seraya menatap Louis. "Apakah kau tahu, arti mimpi itu dan alasan kenapa aku tiba-tiba menangis?"


Louis tertunduk, ia menghela napas berat sebelum berkata, "itu bukan mimpi. Tapi, ingatan yang tuan miliki."


"Ingatan?" Rei mengulang ucapan Louis yang terdengar kesulitan mengucapkan setiap katanya.


Louis mengangguk pelan. "Itu adalah ingatan tuan di masa lalu."


"Ingatanku?"


"Tentang sekelompok lelaki yang selama ini mengganggu tuan. Bukankah mereka muncul didalamnya?"


...***...