Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 231 - Mengulur waktu



...***...


Heru terdiam, pun Gloria. Keduanya diam di meja masing-masing, memperhatikan pelajaran sejarah yang kini sedang mereka ikuti.


Gloria dan Heru menoleh ke arah kursi di sebelah mereka masing-masing.


Setelah jam istirahat, mereka berdua tak lagi bertemu dengan Rei dan Lusia. Mereka berdua menghilang begitu saja entah kemana.


"Kemana mereka sebenarnya? Kenapa mereka tidak kunjung kembali?" Gloria menatap jam yang kini melingkar pada pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam lamanya mereka tak kembali.


Gloria beralih mengecek ponselnya, ia mengecek riwayat panggilannya secara diam-diam. Ia sudah berusaha menghubungi Lusia berulang kali, bahkan di riwayat panggilannya. Ia sudah melakukan panggilan hampir lebih dari seratus kali ke nomor yang sama.


Namun nomor Lusia tak dapat dihubungi sama sekali.


Gloria beralih membuka aplikasi perpesanan. Ia mengirimkan beberapa pesan dengan nada cemas pada Lusia, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.


Kemana dia sebenarnya? batin Gloria. Gadis itu lantas mengirimkan pesan pada Heru yang duduk di meja yang terletak di meja dekat jendela.


Gloria:


Kau sudah bisa menghubungi Rei?


Pesan masuk pada ponselnya berhasil menyita perhatian Heru. Lelaki yang sejak tadi menatap ke arah papan tulis itu sejenak beralih fokus pada ponsel di bawah kolong mejanya.


Heru membuka pesan yang masuk pada ponselnya dan mendapati pesan chat dari Gloria.


Heru menoleh sekilas ke arah Gloria yang duduk terhalang beberapa meja dari posisinya.


Lelaki berkacamata itu kembali mengalihkan fokusnya pada pesan yang baru saja ia terima dari Gloria kemudian membalasnya.


Heru:


Tidak. Aku tidak bisa menghubunginya sama sekali. Bagaimana dengan Lusia? Kau bisa menghubunginya?


Gloria:


Aku juga masih belum bisa menghubunginya.


Kemana sebenarnya mereka pergi, ya? Kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja?


Heru:


Aku juga tidak tahu. Tapi kita tunggu saja hingga jam pelajaran berikutnya. Kalau mereka tidak kembali sampai jam pulang, kita cari mereka.


Gloria:



...*...


Srakk!


Elvina terseret jauh. Beruntung ia berhasil menahan dirinya dengan kedua kakinya sekuat tenaga.


"Aku tidak akan membiarkanmu menang lagi." Joe berjalan mendekat.


Bzzzttt!


Ia menyerang Elvina. Wanita itu menahan serangannya, menghentakkan tangan hingga membuat serangan Joe berbalik arah padanya.


Bugh!


Serangannya tepat mengenai perutnya. Joe memegang perutnya.


Elvina balas menyerang tanpa memberikan celah untuknya. Ia mengayunkan kedua tangannya.


Setiap serangannya berhasil mengenai Joe hingga dia terseret lebih jauh lagi.


Elvina berlari mengejarnya. Belum sempat ia tiba di dekatnya, Joe sudah lebih dulu menyerangnya.


Bzzzttt!


Elvina baru akan menghindari, tapi serangannya lebih dulu mengenai tubuhnya.


Brukk!


Tubuh Elvina terguling di jalan beraspal. Elvina meringis kesakitan, sekujur tubuhnya terluka parah. Beberapa diantara bagian kulitnya bahkan sampai mengeluarkan darah.


Joe melangkah menuju arahnya. "Aku pikir kau itu cukup pintar, tapi sepertinya sejak tadi kau tidak menyadari sesuatu." Joe menyeringai.


Elvina menatapnya, ia berusaha untuk bangkit. Tapi sial baginya, energinya sudah benar-benar menipis. Ia hanya akan bisa bertahan dalam beberapa serangan lagi sebelum energinya benar-benar habis.


"Sebenarnya aku sedang mengulur waktu," ujarnya pelan.


Mengulur waktu? Apa maksudnya dengan mengulur waktu? Elvina tertegun. Ia masih berjuang untuk bangun dari jatuhnya.


"Kau tampaknya sangat terkejut." Joe terkekeh pelan menanggapi ekspresi Elvina yang terlihat sangat kaget atas kalimat yang diucapkannya.


...***...