
...***...
Rei membuka matanya, dan spontan bangkit dari tempatnya terbaring. Ia terdiam dengan wajah pucat.
Aku masih di sini?
Rei mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sejenak, ia sempat berharap semua yang dialaminya adalah mimpi. Tapi begitu tersadar, semuanya memang benar-benar nyata dialaminya.
Rei masih berada di dalam ruangan yang sama. Di ruangan pertama kali dimana dia bangun di tempat yang asing.
Keringat dingin mengucur membasahi keningnya. Rei berusaha untuk tetap tenang, tapi entah kenapa rasanya sulit.
Jantungnya sejak tadi bahkan berdebar begitu kencang, dan tubuhnya benar-benar terasa panas.
Rei baru menyadari beberapa hal. Ada rantai yang mengikat bagian leher, serta tangan dan kakinya. Ia memberontak sekuat tenaga, tapi semakin banyak dia bergerak, Rei semakin merasa tersiksa.
"Dimana sebenarnya aku? Dan siapa mereka? Kenapa mereka membawaku ke sini?"
"Aku bahkan tidak bisa ingat apa yang telah terjadi padaku sebelum aku terbangun di sini."
Rei memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit sakit.
Perhatian Rei mendadak beralih saat ia mendengar suara dari arah pintu masuk. Suara yang di dengarnya adalah suara kunci yang dimasukkan ke dalam lubangnya dan di putar berlawanan arah dengan jarum jam.
Setelah tanda dua kali klik, dan beberapa suara 'PIP', akhirnya pintu itu terbuka dan Rei bisa melihat sosok seorang wanita di sana.
Ia sempat terdiam untuk beberapa saat sambil menatap Rei yang terduduk di sana. Setelah menyadari tidak ada pergerakan apa-apa darinya, wanita itu lantas bergerak menghampiri Rei.
"Kau sepertinya sudah mulai bisa tenang," gumam wanita itu dengan nada santai. Ia menghampiri meja. Menaruh benda dalam genggamannya dengan posisi bertengger pada alat yang tersedia di sana. Tak lama layar hologram muncul menampakkan hasil pemeriksaan berkala tubuh Rei yang sampai sekarang masih terus di pantau oleh sistem otomatis di ruangan tersebut.
"Lepaskan aku! Aku ingin pergi, aku ingin keluar," tutur Rei dengan nada pelan.
Arleta sempat terdiam untuk sesaat mendengarkan ucapannya. Tapi tak lama ia kembali fokus pada apa yang sedang dikerjakannya.
"Memangnya kau mau kemana dengan kondisi lemah seperti ini?" Dengan santainya wanita itu membalas ucapan Rei.
"Aku tidak ingin di sini. Lagipula apa yang kalian lakukan padaku? Kenapa kalian menculik dan mengurungku di sini?"
"Kau ingin tahu kenapa profesor membawamu ke sini?" Arleta menoleh ke arah Rei. Dengan wajah serius wanita itu menghampirinya dan berdiri tepat di depan Rei.
"Karena kau istimewa. Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kau tidak menyadari hal ini, tapi percayalah bahwa profesor berusaha menunjukkan keistimewaanmu."
"Aku tidak ingin di sini. Lepaskan aku, bebaskan aku!" Rei mulai merengek. Ia menekan setiap kalimatnya.
"Aku harap kau tidak memberontak atau membuat keributan lagi seperti beberapa hari yang lalu. Karena kalau kau sampai melakukan hal itu, maka para penjaga akan memberikan hukuman padamu."
"Aku tidak peduli! Lepaskan aku sekarang!" Rei menatap Arleta tajam. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mulai memberontak, berharap bisa lepas dari semua ikatan yang kini membelenggu tubuhnya.
...***...