
...***...
Brukk!
Lusia jatuh ke pelukan Andrich yang berhasil menariknya sebelum semua buku itu mendarat tepat ke arah kepalanya.
Sial! Kenapa dia tiba-tiba muncul dan menyelamatkannya? Melinda mengepalkan tangannya saat melihat Lusia gagal dicelakainya. Andrich mendadak muncul dan malah menyelamatkannya.
Lusia terdiam, pun Andrich yang kini beradu pandang dengannya. Jarak wajah mereka begitu dekat satu sama lain.
Untuk sesaat keduanya tak bisa berkata-kata satu sama lain.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Andrich memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Y… ya, aku baik-baik saja." Lusia menjawab terbata. Ia masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.
Rei yang sejak tadi memperhatikan Lusia, segera berjalan menghampirinya saat melihat Lusia berada dalam pelukan Andrich.
Rei menarik tubuh Lusia hingga menabrak dadanya.
Lusia tersentak kaget saat secara tiba-tiba Rei menarik tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?!" Rei memandang Andrich dengan tatapan tak bersahabat.
"R… Rei?" Lusia mendongak menatap Rei yang kini memeluk tubuhnya.
Andrich menarik sebelah sudut bibirnya menanggapi sikap Rei yang begitu protective pada Lusia.
"Aku hanya berusaha membantunya. Tadi dia nyaris saja tertimpa buku-buku di sana." Andrich menjelaskan.
Rei diam tanpa membalas. Lusia yang melihat gurat wajah tak suka darinya, segera membantu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jangan marah padanya," ucap Lusia dengan suara lembut. Rei menghela napas.
"Aku tidak marah. Aku hanya tidak suka dia menyentuhmu seperti itu," ujar Rei.
"Itu tidak di sengaja. Sudahlah, ayo pergi dari sini. Gloria dan Heru pasti sudah menunggu kita." Lusia melerai pelukannya. Ia meraih tangan Rei dan menariknya menuju ke arah dimana kursi yang di tempati Gloria dan Heru berada.
"Baiklah," sahut Rei yang kemudian melangkah.
Lusia berhenti sejenak sambil menoleh pada Andrich. "Aku benar-benar minta maaf atas sikap Rei," tuturnya.
"Tidak apa-apa. Pergilah," jawab Andrich yang sama sekali tak keberatan.
Rei dan Lusia berlalu meninggalkan tempatnya berada.
Andrich terdiam memandangi kedua punggung sepasang remaja yang kini berdampingan.
Ternyata dia begitu protective terhadap Lusia. Sepertinya ini bisa aku manfaatkan. Kalau aku menculik salah satu di antara mereka, maka dengan mudah aku akan mendapatkan keduanya. Kalau diibaratkan benda, mereka berdua seperti magnet yang saling tarik menarik. Kalau salah satu kutubnya di tarik, otomatis kutub lainnya akan bergerak menghampirinya, batin Andrich sembari tersenyum simpul.
Andrich mengubah air mukanya saat ia menyadari sebuah keganjilan yang baru saja terjadi.
Fokus mata Andrich beralih pada buku-buku yang berserakan di lantai. Buku yang nyaris saja jatuh menimpa kepala Lusia.
Andrich menghampiri rak itu lalu berjongkok di antara buku-buku itu.
Ini benar-benar aneh, padahal aku jelas-jelas melihat semua buku ini berada dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kenapa bisa tiba-tiba berjatuhan? Seperti ada seseorang yang sengaja menjatuhkan semua buku ini untuk mencelakai Lusia, batinnya.
Tangan Andrich terulur membereskan semua buku-buku itu dan menaruh semuanya kembali ke tempat yang seharusnya. Di rak di sampingnya, tepat berada di bagian atas rak tersebut.
Andrich menghentikan kegiatannya begitu ia selesai. Ia menatap ke sisi lain rak.
...***...