Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 279 - Mobil putih



...***...


"Terima kasih karena sudah membantuku," ujar Lusia yang kini tiba di sisi koridor sepi. Ia berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi Rei malah mengeratkan genggamannya.


"Apakah itu artinya, 'iya'?" Rei menekan kata akhirnya.


"H… huh? A… apa maksudmu?" Lusia terbata, wajahnya merona dan spontan ia berlagak sok polos. Ia lupa kalau Rei akhirnya akan menanyakan jawaban atas permintaannya terakhir kali.


"Bukankah kau bilang kalau yang kalah akan mewujudkan permintaan yang menang? Jadi apakah itu artinya 'iya'?"


"M… memangnya apa yang kau minta dariku?"


"Aku tahu kau ingat. Tapi akan aku katakan lagi. Aku ingin kau menjadi kekasihku, karena aku menyukaimu."


"I… itu…" Lusia terbata, ia menundukkan kepalanya yang merona. Jujur saja sejak ia menggenggam tangannya tadi, jantungnya tak berhenti berdegup.


"Kau mau, kan?"


"I… iya…" gumam Lusia akhirnya. Kata itu begitu sulit keluar dari mulutnya.


"Apa? Aku tidak mendengarnya."


"I… iya, aku mau jadi kekasihmu." Lusia memperjelas ucapannya dengan wajah malu-malu. Rei merekahkan senyum saat kalimat itu akhirnya terlontar dari bibirnya.


"Itu artinya mulai hari ini kita resmi berpacaran!"



...*...


Beberapa hari berlalu semenjak akhirnya Rei dan Lusia benar-benar menjadi sepasang kekasih. Berita mengenai mereka sudah tersebar hingga ke seisi sekolah.


Kepopuleran Rei membuat nama mereka tersebar ke seluruh kelas. Banyak para penggemar Rei yang kecewa karena Rei akhirnya sudah tak lagi sendiri, tapi sebagian dari mereka juga ada yang mendukung hubungan keduanya karena memang pada dasarnya mereka pasangan yang serasi, sama-sama pintar dan berprestasi, selain itu cantik dan tampan.


Diantara orang-orang yang kecewa atas berita hubungan Rei dan Lusia. Masih ada Fandy, lelaki yang tak bisa menerima Lusia bersama lelaki lain.


"Terima kasih karena sudah mengantarkan aku pulang." Lusia turun dari motornya. Ia melepaskan helm yang semula terpasang di kepalanya lalu memberikan benda itu pada Rei.


"Bukan masalah. Kalau begitu sampai jumpa hari Senin." Rei tersenyum.


"Sepertinya aku akan merindukanmu, selama akhir pekan ini." Lusia menampakkan wajah murung.


"Kita akan bertemu lagi saat Senin tiba. Lagipula, bukankah kau bilang kau memiliki urusan dengan keluargamu besok?"


"Ya… andai saja aku boleh untuk tidak ikut. Tapi sayangnya mama dan papa memaksaku untuk ikut. Kalau aku tidak ikut, mungkin kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama."


"Kalau begitu, bagaimana dengan Minggu depan?"


"Baiklah. Minggu depan."


"Kalau begitu sampai jumpa."


"Hati-hati di jalan." Lusia tersenyum. Rei mengangguk pelan sebelum akhirnya memutar arah dan melaju meninggalkan tempat Lusia.


Lusia terdiam memandangi Rei yang terus melaju, memacu motornya pergi hingga sosoknya terus menjauh dari tempatnya berada.


Entah kenapa, tapi aku merasa tidak ingin berpisah dengannya. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya, walau untuk seharian ini saja, pikir Lusia. Tanpa alasan yang jelas, hatinya resah. Enggan untuk berpisah dengan Rei seperti ini.


...*...


Rei melajukan motornya menuju arah jalan pulang. Sepanjang perjalanan, fokusnya hanya tertuju pada jalan yang dilaluinya.


Bipp! Bipp!


Sebuah mobil putih mendadak muncul, melaju di dekatnya dan menekan klakson berulang kali.


Rei menoleh ke arah mobil yang kini bersebelahan dengannya. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan pengendara mobil.


...***...