
...***...
"Saat SMP dulu, dia pernah menyukaimu karena kau adalah salah satu anggota OSIS yang populer. Dia berusaha menarik perhatianmu dengan beberapa kali menampakkan diri di sekitarmu, dan sering kali berusaha menunjukkan kepintarannya dalam hal belajar. Sering kali, aku dengar kalian bertemu di ruang guru untuk berdiskusi mengenai tugas dengan guru mata pelajaran, atau di perpustakaan. Tapi kau tidak pernah sadar akan kehadiranmu. Sampai kemudian ia berhasil menarik perhatianmu dan kalian sempat dekat, tapi sikapmu yang seakan membangun dinding dengan para gadis, membuat Lusia kecewa karena usahanya sia-sia."
Kalimat dari Gloria itu terngiang dalam benaknya. Rei terdiam dengan otak yang terus dihampiri setiap ucapan yang terlontar dari mulut Gloria tentang masa lalunya dengan Lusia.
"Karena benar-benar lelah mengejarmu dengan cara yang sebelumnya, akhirnya ia memutuskan untuk mencari cara lain dengan berpacaran dengan salah satu lelaki yang menyukainya. Namanya Fandy. Setelah dia berpacaran pun, kau tak pernah perduli walaupun kalian saat itu sudah cukup dekat. Sampai kemudian akhirnya semua itu terlewati begitu saja, dan kalian tidak pernah bertemu lagi setelah kau lulus dan melanjutkan sekolah ke SMA."
Rei menghela napas panjang begitu ia merasa kalau setiap pertanyaannya tentang Lusia, kini mulai terjawab. Alasan kenapa gadis itu bersikap ketus terhadapnya, dan alasan kenapa dia selalu marah-marah saat dekat dengannya.
Jadi itu alasannya dia bersikap seperti itu padaku? batin Rei.
Saat ini, dirinya sedang berada di sisi lain taman. Berdiri di bawah salah satu pohon rindang yang ada di sana.
...*...
Tiba di taman, Lusia menghampiri salah satu bangku yang ada di sana. Ia duduk di bawah bangku taman yang terletak dibawah salah satu pohon yang ada di sana.
Lusia menyandarkan punggungnya, dan mulai berusaha menenangkan diri.
Di sisi taman ini, tidak ada seorang pun yang berkunjung. Hanya ada dia yang kini sedang berusaha tenang, beda halnya di sisi lain taman yang semula di lewati Lusia. Di sana lebih ramai karena beberapa di antara mereka sedang menikmati waktu bersama dengan kekasihnya.
Aku harus mencoba untuk tenang, pikir Lusia yang kemudian memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk tenang.
...*...
Hening. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing.
Semenjak mereka keluar dari restoran, keadaan menjadi terasa sangat canggung. Terlebih setelah Leon mengungkapkan isi hatinya pada Elvina.
Wanita itu tak lagi berkata apa-apa dan terkesan membuat sedikit jarak diantara mereka, membatasi diri mereka dengan dinding.
Sebenarnya keadaannya terasa sama saja seperti saat mereka berangkat tadi, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar. Namun yang membuatnya berbeda, mungkin karena Leon baru saja mengutarakan isi hatinya dan itu membuat keadaan terasa ambigu.
"Ayolah, jangan seperti ini. Katakan sesuatu, aku tidak nyaman kalau kita diam-diaman seperti ini." Leon mulai muak.
Elvina menoleh ke arahnya. "Katakan sesuatu, agar tidak terasa canggung. Aku tahu kau masih terkejut, tapi jangan diam seperti ini dan membuat keadaan tidak nyaman. Anggap saja semuanya baik-baik saja," kata Leon seraya menoleh padanya.
"Saya bukannya tidak ing…"
Ciiittt…
Leon mendadak menginjak pedal rem. Membuat ucapan Elvina terpotong. Keduanya menoleh.
...***...