Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 170 - Sekolah



...***...


Rei membuka kedua matanya spontan. Keringat dingin, jantung berderu, dengan napas tak beraturan selalu menjadi pembuka awal harinya.


Rei mengusap keningnya yang dibanjiri keringat. Lagi-lagi mimpi itu datang menghampiri tidurnya.


Rei baru tersadar dirinya ketiduran setelah membaca salah satu buku catatan yang ia temukan, catatan yang berhasil dibacanya adalah catatan dengan huruf Hangeul yang cukup mudah untuk ia baca.


Setelah membaca isinya, Rei baru mengerti kalau isinya tetap berbahasa Indonesia, namun di tulis dengan huruf Hangeul. Rei merasa hal ini sengaja dilakukan agar tidak ada orang lain yang bisa membacanya selain dirinya.


Sebagian dari catatan yang ia temukan di tulis pada tengah malam. Lewat dari pukul dua belas malam, dan beberapa diantaranya bahkan ada yang di tulis pada pukul tiga dini hari.


"Aku ketiduran saat membaca catatan ini, ya…" Rei bergumam. Ia menatap buku yang berada dalam pangkuannya. Ia baru sampai pada bagian tiga perempat buku, ada beberapa bagian catatan yang tidak Rei mengerti karena beberapa diantaranya menggunakan bahasa kiasan yang sulit dimengertinya, apalagi sebelum ia membaca seluruh buku yang ditemukannya.


Alarm yang di pasangnya mendadak berbunyi dan menyita seluruh perhatiannya. Rei segera mematikan suara bising yang keluar dari jam digital miliknya di atas meja.


Jam itu telah menunjukkan pukul setelah enam pagi. Rei baru ingat kalau mulai hari ini, dirinya akan kembali ke sekolah.


"Lebih baik aku bersiap," ucapnya. Rei bangun dari pembaringannya. Ia menaruh bukunya terlebih dahulu sebelum pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.



...*...


Setelah mandi dan memakai seragam yang di berikan Ella untuknya, Rei segera turun dan sarapan bersama keluarganya.


Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah, dan ia tidak ingin merusak mood-nya hanya karena keluarganya yang bersikap seperti itu.


Jujur saja, sebenarnya Rei masih merasa sakit hati. Entah kenapa tapi, masih terasa sesak dalam dadanya.


Setelah sarapan, Rei berangkat ke sekolah dengan menggunakan motor. Ia pergi dengan Isyana yang akan mengantarkannya dan menunjukkan jalan menuju sekolah agar dirinya tidak tersesat.


Rei sengaja memakai motor untuk menghindari keambiguan yang nantinya menyelimuti kebersamaannya dengan Isyana.


...*...


SMA Abadi, adalah sebuah sekolah swasta yang berdiri sejak tahun 80-an dan bertahan dengan kokoh hingga saat ini.


Ada sebuah keunikan yang membuat sekolah ini berbeda dari sekolah-sekolah yang pernah ada. Bagian sekolah ini, terbelah menjadi dua bagian yang bagian tengah-tengahnya di pisahkan oleh sebuah dinding beton yang tinggi menjulang, membenteng bagian lain.


Seluruh siswa yang bersekolah di sana, semuanya belajar di bagian sekolah yang baru saja dibangun beberapa tahun terakhir. Bagian itu banyak di renovasi dan mengalami beberapa pelebaran guna memperluas lapangan, dan melengkapi beberapa fasilitas sekolah yang belum ada.


Sementara itu, semua siswa juga dilarang keras untuk melintas atau menyeberang perbatasan dinding beton yang kini berada di bagian samping sekolah.


Ada alasan kuat yang membuat mereka tidak boleh menghampiri kawasan bangunan sekolah lama, dan alasan itu tak lepas dari tragedi yang pernah terjadi pada beberapa puluh tahun silam.


...***...