
...***...
Entah kenapa Rei merasa sedih, dadanya benar-benar terasa sesak saat melihat lelaki itu.
Matanya yang berkaca-kaca tiba-tiba meloloskan butiran bening dari kedua pelupuk matanya. Ia mulai menangis tanpa suara. Tanpa kata. Juga tanpa sebab yang jelas.
Kedua mata pria albino dihadapannya itu juga terlihat mulai berkaca-kaca dan hampir menangis.
Tiba-tiba senyuman terukir di wajah tampannya. Bibir dan tubuhnya tampak bergerak berusaha menahan tangisnya.
Rei bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia juga tidak mengerti siapa pria yang kini berdiri dihadapannya.
"S… siapa kau?" Rei berucap lirih. Suaranya bergetar saat mengucapkan kalimat itu dengan sesak yang terasa seakan-akan ada sesuatu yang mengganjal pada tenggorakannya.
Pria itu melangkah lagi. Mengikis jarak diantara mereka. Pria itu tiba-tiba memeluk Rei.
"T… tuan…" Suara pria itu terdengar lirih. Ia tiba-tiba terisak, menangis dalam pelukan Rei dengan pundak yang bergetar.
Rei diam terpaku, tanpa sebab yang jelas pula dirinya menangis kala pria itu memanggilnya dengan kata 'tuan.'
Rei merasakan sengatan pada tubuhnya ketika mereka saling bersentuhan satu sama lain. Bersamaan dengan itu, air matanya semakin deras.
"Aku sangat merindukan tuan. Setelah lama aku menunggu, akhirnya aku mendapatkan waktu yang tepat untuk bertemu lagi dengan tuan." Pria itu berbisik tepat di telinganya.
Rei memang tak mengerti kemana arah pembicaraannya, tapi setiap kata yang terlontar dari mulutnya membuat Rei sedih. Ia semakin mengencangkan pelukannya pada pria itu, seakan tak ingin pria itu pergi dari pelukannya.
"…Aku selalu ingin berusaha bertemu dengan tuan. Tapi aku selalu menahan diriku, dan menunggu hingga waktunya tepat. Aku harap tuan tidak marah padaku. Biarpun kita baru bertemu sekarang, tapi asal tuan tahu kalau aku selalu mengawasi tuan, dan memastikan kalau tuan tak pernah menghadapi semuanya sendirian."
"Aku akan selalu berada di samping tuan dan menemani tuan menghadapi semuanya. Sekalipun tuan tak dapat menemukanku sama sekali."
Rei tak perduli dengan semua pertanyaan mengenai sosok si albino yang kini dalam pelukannya.
Hatinya larut dalam haru yang menghampirinya. Walaupun kebingungan, namun anehnya hanya ada satu yang benar-benar dapat Rei rasakan sekarang ini.
Satu-satunya hal itu adalah tidak ingin jika sampai pria itu pergi darinya.
Setelah berpelukan cukup lama, mereka melerai pelukannya. Keduanya beradu tatap dalam jarak yang begitu dekat.
"Aku tahu tuan tak ingat siapa aku."
"Suatu saat, ketika waktunya benar-benar sudah tepat, tuan akan tahu siapa aku…"
"…Yang jelas satu-satunya alasanku di sini, dan menemui tuan hanya karena aku tidak ingin tuan menanggung semua beban ini sendirian. Aku juga hanya ingin mengingatkan kalau aku akan selalu ada untuk tuan dan menemani serta mengawasi tuan…"
"…Aku akan memastikan tuan bisa melewati semua masalah tuan."
Pria itu terdiam sejenak. Rei pun bahkan sejak tadi hanya bergeming tanpa kata.
Pria itu menarik napas dalam-dalam kemudian berbicara lagi, dengan suara yang terdengar begitu berat dan sulit.
...***...