Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 303 - Marcell



...***...


"Pasti kalian, 'kan yang sudah menyebarkan gosip tidak benar tentang Rei! Kalian yang sudah menyebarkan berita kalau Rei penyuka sesama jenis?!" Miranda menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Maaf, memangnya kau siapa? Kenapa kau peduli tentangnya?"


"Kau terlihat sangat marah, apakah kau adalah kekasihnya?"


"Atau jangan-jangan kau adalah fans fanatiknya?"


Beberapa pria itu mencondongkan wajahnya ke arah Miranda dengan tatapan mengejek.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Yang pasti, aku tidak akan membiarkan kalian menyebarkan berita tidak benar tentangnya!" Miranda balas tatapan mereka.


"Kenapa kau harus peduli dengannya? Kau menyukainya? Kau itu cantik, kenapa kau harus suka dengan manusia homo sepertinya? Lebih baik kau bersamaku saja." Salah satu diantara mereka mengusap pundak Miranda.



Miranda menatap tangan lelaki itu sebelum kemudian mencengkram dan memelintirnya hingga membuat pria itu kesakitan.


"Aw… awww… sakit, arghh. Lepaskan tanganku!" Ia meringis kesakitan.


"Dengar! Kau berani mengusik kehidupannya, kalian berhadapan denganku!" Miranda menekan kalimatnya.


"Kau ternyata berani bermain kasar dengan kami." Satu lelaki lain mendekat ke arahnya. Tangannya terulur hendak menyentuh tubuh Miranda, namun lebih dulu gadis itu bergerak menangkap tangannya dan memelintirnya ke arah yang lain.


Keduanya kini meringis. Yang lain tidak tinggal diam dan berusaha membantu temannya yang kesakitan. Mereka lantas menyerang Miranda, tapi gadis itu dengan cekatan menghadapi mereka dengan kemampuan beladiri taekwondo-nya.


Dengan serangan menggunakan kaki dan tangannya, tak butuh waktu lama untuk membuat sekelompok pria itu jatuh terkapar di lantai.


Orang-orang melongok melihat aksi Miranda yang membuat kegaduhan di seisi kafetaria.


Beberapa meja bagian sampai bergeser akibat pertarungan singkatnya dengan mereka.


Brukk!


"Dengar! Aku akan mencari bukti atas perbuatan kalian semua! Dan kalau kalian terbukti bersalah, aku akan melaporkan kalian pada guru BK!" tukas Miranda.


Gadis itu berbalik. Saat ia berbalik, ia berpapasan dengan Marcell yang baru saja tiba di ruang kafetaria.


Miranda beradu pandang dengan lelaki yang menjadi kerabatnya Rei itu.


"Aku akan mencari bukti agar mereka bisa di laporkan pada guru BK. Akan aku cari juga siapa orang yang sudah menulis artikel ini," tuturnya.


"Baik. Biar aku urus mereka," sahut Marcell.


Miranda beranjak pergi meninggalkan ruang kafetaria. Marcell berjalan menghampiri sekelompok lelaki itu.


Ia berjongkok di depan salah satu pria yang masih mengaduh kesakitan. Mereka tersentak saat melihat kedatangan Marcell bersama dengan teman-temannya.


"Bukankah aku sudah memperingatkanmu tentang ini?" Marcell menatap tajam mereka semua.


"A… aku…"


"Peringatan yang aku berikan pada kalian tampaknya sama sekali kalian hiraukan. Sepertinya, peringatanku waktu itu memang kurang."


Raut wajah takut terpancar dari wajah sekelompok lelaki itu.


Marcell bangun dari tempat duduknya. Lelaki jangkung itu menatap beberapa temannya yang ikut serta dengannya.


"Awasi mereka. Lalu pastikan mereka datang, saat pulang sekolah nanti!" bisiknya.


"Dengan senang hati," sahut salah satu temannya sembari tersenyum.


Marcell menepuk pundak salah satunya lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kafetaria yang kini berada dalam keadaan kacau.


Semua orang terdiam, melongok dengan tatapan nyaris tak berkedip melihat apa yang terjadi barusan.


...***...