
...***...
"Lusia hilang." Kalimat itu terlontar dari mulutnya dalam satu kali tarikan napas. Dalam sekejap Cato tidak bisa mendengar apa-apa dari seberang sana. Dorothy sepertinya kaget sampai-sampai tidak bisa berkata-kata.
"A-apa kau bilang?" Dorothy masih berusaha mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Wanita itu merespon dengan suara yang agak terbata, tergambar dengan jelas bahwa wanita itu benar-benar terkejut dengan ucapannya barusan.
"Aku minta maaf, tadi aku hanya meninggalkannya sebentar untuk membeli minuman. Tapi begitu aku kembali Lusia—"
"Bagaimana kau bisa meninggalkan seorang anak kecil sendirian?!" kata Dorothy dengan nada yang sedikit naik. Menggambarkan jelas perasaan kecewanya begitu mendengar kabar tersebut.
"Aku salah..."
"Katakan dimana kau sekarang? Apa kau sudah menemukannya? Kau sudah lapor polisi?"
"Aku di taman di tempat biasa kita bersenang-senang, aku tidak berhasil menemukannya di manapun. Sekarang rencananya aku akan melaporkan ini ke polisi."
"Aku akan ke sana sekarang!" Dorothy memutuskan sambungan telepon mereka sepihak. Dia yang panik tampaknya segera pergi ke tempat Cato berada saat ini. Sementara itu, Cato hanya bisa terdiam lesu dengan wajah cemas. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Dorothy begitu bertemu dengannya.
Aku minta maaf...
...*...
Di sisi lain, Meredith dan suaminya telah mereka kabari. Meredith yang mendengar itu syok bukan main. Siang malam dia menangis. Berharap Lusia segera di temukan.
Keadaan berubah kacau hanya dalam sekejap. Terlebih Lusia seolah menghilang begitu saja bak di telan bumi.
Beberapa hari setelah kejadian Lusia menghilang, seisi Inggris di buat heboh oleh kabar hilangnya anak-anak kecil. Bukan hanya itu, bahkan di televisi ramai yang mengabarkan bahwa seluruh penjuru dunia juga mengalami kasus yang sama. Banyak anak-anak yang juga hilang secara misterius tanpa jejak.
Kasus ini seketika berubah menjadi perhatian semua orang di penjuru negeri. Banyak orang yang berusaha mencaritahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan kenapa mereka bisa menghilang secara misterius.
Tring!
Suara dering ponsel di dengarnya. Bunyinya yang nyaring langsung membuat tidur Cato terganggu. Lelaki itu mengulurkan tangannya secara perlahan, meraba nakes di dekat tempat tidurnya lalu mengecek panggilan yang baru saja masuk.
Kedua matanya yang masih terasa berat dia paksa untuk terbuka guna mengecek siapa yang dengan berani malam-malam buta begini menghubunginya. Begitu pandangannya jelas, Cato melihat nama Martin tertera di layar ponselnya. Menyadari itu, Cato langsung menekan tombol untuk mengangkat teleponnya.
Sambil menempelkan benda itu ke telinganya, Cato bergerak turun dari ranjang lalu meninggalkan kamar dengan Dorothy yang masih terlelap dalam tidurnya. Lelaki itu benar-benar tidak ingin membuat istrinya terganggu karena dia berbicara di telepon.
Cato turun ke lantai dasar, dan pergi ke ruang tengah untuk bicara dengan Martin di sana. Tengah malam begini, memang lebih cocok berbicara di tempat yang jauh dari tempat orang-orang beristirahat.
Begitu tiba di sana, Cato segera menyerang Martin dengan berbagai pertanyaan yang selama ini dia tahan karena lelaki itu mendadak hilang.
...***...