Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 437 - Reaksi



...***...


Andrich berjalan mengikuti Lusia yang kini melangkah bersama dengan kedua temannya.


Aku akan menangkapmu hari ini juga. Bagaimanapun caranya! batin Andrich sambil mengepalkan tangan.


Tatapan matanya tajam memperhatikan Lusia yang terus menjauh.


Baru beberapa langkah, ia mengikuti Lusia. Ia mendadak berhenti saat seorang gadis menyerukan namanya.


"Andrich!" teriaknya dengan suara nyaring.


Andrich beralih pandang padanya yang kini berlari menuju arahnya. Seorang gadis cantik dengan tubuh seksi yang nyaris menyaingi Melinda.



Angelina, begitu orang-orang memanggilnya. Salah satu gadis yang paling banyak digilai kaum Adam di sekolahnya.


Angelina mengenakan seragam putih dengan dua kancing bagian atasnya terbuka, menampakkan belahan dadanya. Bagian bawah seragamnya ia masukkan ke dalam rok pendek yang terlihat sudah kekecilan, bahkan ukurannya berada di atas lututnya. Hal itu membuat siapapun dapat melihat paha putih mulusnya.


"Kau mau kemana?" tanyanya begitu tiba di hadapan Andrich sembari tersenyum ke arahnya.


Andrich terdiam sejenak. Ia memperhatikan Angelina dari atas sampai bawah. Penampilannya membuat ia merasakan sebuah pergerakan aneh dari sel-sel dalam tubuhnya.


"Apa kau akan ke kantin?" tanyanya. Andrich mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kebetulan sekali, aku juga akan ke kantin. Bagaimana kalau kita makan bersama? Teman-temanku sedang memiliki urusan. Mereka harus menghadiri acara pertemuan yang diadakan klub masing-masing, jadi aku tidak punya teman. Aku tidak ingin makan sendiri," jelasnya panjang lebar.


Andrich terdiam sejenak. "Boleh 'kan?" Angelina merangkul tangannya, merapatkan diri pada Andrich hingga dadanya menyentuh lengan pria itu.


"Ya, tentu saja." Andrich menjawab setelah terdiam beberapa saat.


"Yeay! Kalau begitu ayo makan bersama!" Angelina menarik tangan Andrich meninggalkan tempat tersebut.


Ada sebuah pergerakan aneh yang ia rasakan pada beberapa sistem tubuhnya. Sel-sel yang semula bergerak normal, mulai menampakkan reaksinya.


Sistem hormon dopamin di otaknya meningkat. Memicu neurotransmiter nya bergerak diluar kata normal. Hormon-hormon lain dalam tubuhnya ikut bereaksi.


Bersamaan dengan itu, ia merasakan sistem endokrin dalam tubuhnya menimbulkan reaksi yang berbeda dari sebelumnya.


Andrich merasa tidak asing dengan sensasi ini. Apalagi ketika kelenjar hipotalamus nya menampakkan reaksi yang sama anehnya. Memicu degup jantungnya berdebar kencang.


Suhu tubuhnya naik-turun, wajahnya berubah merah dengan libidonya yang mulai naik secara perlahan-lahan.


Andrich merasa sedikit kepanasan. Ia mulai gelisah, apalagi dengan posisi dirinya yang begitu berdekatan dengan Angelina seperti ini.


Kalau diibaratkan, Andrich sekarang seperti orang yang baru saja secara tidak sengaja memakan obat perangsang.


Ia menelan saliva-nya dengan mata yang mulai berubah. Fokusnya sejak tadi tertuju pada Angelina yang berjalan disampingnya.


Tiba di kantin, Angelina menarik Andrich untuk duduk satu meja dengannya.


Langkah yang tidak terlalu seimbang membuat Andrich secara tak sengaja menumpahkan minuman yang dibelinya ke atas seragam Angelina.


Seragam putihnya seketika basah, dan dengan sangat jelas Andrich bisa melihat pakaian dalam gadis itu.


"Aku minta maaf," katanya.


"Hanya basah sedikit, tidak masalah." Angelina tersenyum simpul sambil mengeluarkan tisu dan mengelap pakaiannya. Namun dengan cepat Andrich menarik tisu yang baru digenggamnya.


"Biar aku saja," katanya sambil memfokuskan diri mengelap pakaian Angelina yang basah.


"Tidak apa-apa. Aku bisa lakukan sendiri," tolaknya. Wajah Angelina merona.


...***...