
...***...
Dengan mata yang basah karena air mata, dan tangan yang gemetar. Wanita itu terus mencoba mengejar suaminya yang membawa ikut serta kedua putranya. Dorothy berulang kali menghapus air matanya, berusaha memperjelas penglihatannya agar tidak mengganggu.
Mereka terus kejar-kejaran, sampai akhirnya Cato beberapa kali menyalip beberapa mobil yang bergerak dihadapannya. Dorothy tidak tinggal diam, dia ikut menyalip beberapa mobil tadi. Namun karena pandangan yang buram dan laju mobil yang tidak terkendali, dia tidak terlalu bisa memperhatikan sekeliling.
Tepat saat Cato mengalihkan jalur mobilnya, Dorothy baru sadar bahwa jalan yang dilaluinya adalah sebuah belokan.
Wanita itu tidak sempat menginjak rem. Mobilnya seketika keluar jalur dan menabrak trotoar hingga akhirnya berhenti saat bertabrakan dengan tiang lampu jalan.
Kejadiannya begitu cepat. Tepat begitu mobilnya menabrak tiang, Dorothy seketika tidak sadarkan diri dengan mobil yang bagian depannya hancur dan mulai mengeluarkan asap.
Kecelakaan yang baru saja dialaminya itu beruntung disaksikan oleh seorang polisi yang sedang bertugas di sana. Dia bergegas menghampiri mobil Dorothy dan memanggil bantuan untuk langsung mengevakuasinya.
Dorothy langsung dievakuasi dengan bantuan beberapa polisi, lantas di bawa ke rumah sakit dengan bantuan ambulans yang dipanggilnya. Lalulintas sempat terganggu akibat kejadian itu, dan hal itu menyebabkan kemacetan. Beruntung prosesnya berjalan cepat, jadi lalulintas bisa kembali berjalan normal.
...*...
Tiana resah. Wanita itu sudah berulang kali menghubungi wanita yang menjadi sahabatnya. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Bahkan nomor teleponnya tidak aktif sama sekali. Sebenarnya ada yang harus dia bicarakan dengan Dorothy. Dia ingin membahas mengenai apa yang terjadi, dan kenapa anak-anak yang dinyatakan hilang itu bisa mendadak kembali secara bersamaan. Yang lebih anehnya mereka kembali tepat sebelum Dorothy memberikannya bukti yang dia minta.
"Bagaimana? Kau sudah berhasil menghubunginya?" tanya Rivanno. Lelaki yang tak lain adalah rekan kerja sekaligus orang yang selalu membantunya dalam segala situasi.
"Mungkin urusannya belum selesai. Nanti kalau urusannya selesai, dia akan menghubungimu."
"Tapi dia bilang dia akan menghubungiku saat makan siang berakhir. Ini bahkan sudah lewat jauh dari jam makan siang yang dia janjikan."
"Mungkin saja dia lupa, kan?"
"Tidak mungkin, Dorothy bukanlah tipe orang yang pelupa. Dia selalu melakukan segala sesuatunya dengan perhitungan, dan dia selalu mengatur segalanya termasuk dalam hal janjian seperti ini. Aku jadi cemas, terlebih saat aku bicara dengannya di telepon tadi, dia bilang sedang bersama suaminya."
"Kau coba hubungi dia nanti lagi saja. Siang ini kau masih harus siaran kan? Kalau dia masih tidak bisa dihubungi, kita datangi dia ke rumahnya. Aku akan mengantarkanmu."
"Baiklah, terima kasih karena kau mau membantu."
"Bukan masalah. Sekarang ayo masuk sebelum produser mencarimu." Rivanno berbalik. Mengikuti Tiana yang kini melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung. Siang ini, wanita itu masih harus melakukan siaran berita.
Tiana berusaha untuk tenang dan bersikap profesional, dia mencoba untuk tidak memikirkan Dorothy yang mendadak tidak bisa dihubungi. Walaupun hatinya resah takut terjadi sesuatu padanya, tapi dia tetap mencoba mengatur emosinya.
Tiba di dalam, Tiana segera di minta untuk bersiap. Dia harus melakukan siarannya dalam waktu dekat. Sebelum itu, di bersiap terlebih dulu.
...***...