
...***...
"Akh—"
"Hentikan!" Joe berusaha menghentikan profesor yang terus memaksa adiknya untuk tidak bergerak.
Lelaki itu sama sekali tidak menggubrisnya hingga membuat emosi Joe terus naik sampai ke ubun-ubun.
"Aku bilang hentikan. Jangan sakiti Derek lagi!" teriaknya.
"Kau tidak bisa menghentikan kami!" Tuannya itu menepuk bahunya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu pada adikku!" Joe menpis tangannya dan segera menghampiri profesor. Tapi lebih dulu tuannya menarik tangan Joe.
"Kau tidak boleh ke sana!"
"Lepaskan aku!" Joe menghempaskan tangannya sampai membuat lelaki itu terpental jauh dari posisinya.
Melihat hal itu, dua penjaga yang tadi menarik paksa Derek segera bergerak. Mereka berusaha melumpuhkan Joe yang berusaha menghentikan profesor.
Joe menghadapi keduanya. Melawan mereka dengan kekuatan listriknya sampai dalam waktu singkat, keduanya terkapar tak berdaya di bawah lantai.
"Lepaskan adikku!" teriak Joe lagi begitu yang terakhir berhasil ia lumpuhkan.
Profesor sudah menarik Derek hingga ke atas tabung dan siap mendorongnya masuk ke dalam sana.
Joe semakin emosi, ia menghempaskan tangannya yang dalam sekejap membuat sengatan listrik bertegangan tinggi menyambar ke arah lelaki tua itu.
Bzztt!
Tubuhnya terpental sampai menghantam beberapa tabung lain yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berada.
Joe berlari menuju arah Derek. Ia segera menarik tubuh adiknya dan melepaskan semua alat yang terpasang pada tubuhnya.
"Derek…" Joe menangis sambil memeluk tubuh Derek yang dalam keadaan setengah sadar.
"Aku benar-benar merindukanmu," bisiknya sambil tersedu-sedu.
"Maafkan aku… maaf karena aku tidak bisa melindungimu dari mereka sampai-sampai kau harus jadi seperti ini."
"Aku menyayangimu. Hanya kau satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini." Joe mengeratkan pelukannya.
"Joe…" lirihnya.
"Ya?" Joe segera melerai pelukannya. Beradu tatap dengan adiknya yang kini ia dekap.
Tatapan mata Derek terasa berbeda. Ia terlihat menatapnya tajam dengan seringai yang perlahan terangkat di wajahnya.
"…Aku menemukanmu," ujarnya.
Joe membulatkan mata dengan wajah bingung.
Detik berikutnya, ia di buat terkejut saat melihat Derek yang mendadak berubah.
Seluruh rambutnya berubah putih, dengan alis dan bulu matanya. Selain itu, kulitnya yang semula berpigmen mendadak berubah pucat.
Joe spontan melepaskan Derek.
"K… kau bukan Derek…" ujar Joe dengan bergetar.
Ia kaget bukan main dengan apa yang kini dilihatnya. Wajah lelaki yang semula terlihat seperti Derek itu, berubah menjadi Louis yang kini menatapnya intens.
"Kau siapa? Dimana Derek?" Dengan suara gemetar, ia berucap.
Louis bangkit dari posisinya. "Aku memang bukan Derek. Aku Louis," gumamnya.
Louis bergerak secepat kilat. Mendorong tubuh Joe hingga menghantam dinding dan mencekiknya erat hingga Joe tidak bisa bernapas.
"L… lepas…" Joe berusaha untuk bernapas. Sialnya tidak bisa, cekikan tangan Louis terlalu kencang hingga membuatnya kesulitan untuk berkata-kata.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menunjukkan dimana kau menyembunyikan William!" Louis semakin mengencangkan cekikannya.
Joe terus memberontak. Ia mulai kehabisan napas hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
Tubuh Joe yang tadi melayang dengan posisi leher di cekikannya dengan sangat erat, langsung berubah menjadi asap dan menghilang dari hadapannya.
Louis terdiam begitu sadar dengan apa yang terjadi. Ia menatap asap yang menghilang di udara.
"Terima kasih."
...***...