Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 87 - Mimisan



...***...


"Biar aku yang urus mereka," ujar Amanda dalam bahasa Inggris. Dengan cekatan, ia mengambil alih semua orang-orang yang terluka. Mengeluarkan alat-alat medis dalam kantong miliknya dan mulai bergerak cepat untuk membantu mengobati luka mereka semua.


Semua orang yang ada, cukup terkejut dengan persediaan alat medis milik Amanda yang bisa dikatakan nyaris lengkap. Mereka tak pernah menyangka kalau wanita itu membawa alat medis selengkap itu dalam tasnya.


"Sekarang aman. Melaju lebih cepat!" Daisy berteriak. Fero mengangguk dan langsung mempercepat laju mereka.



"Kita butuh bantuan agar kapal ini lebih cepat lagi," ujar Kevin. Ia melirik pada salah satu evolver. Ia mengangguk pelan, mengerti dengan ucapan Kevin.


Evolver tadi lalu menghampiri pagar. Ia mulai memejamkan kedua matanya dengan tangan yang berpegangan pada pagar. Fokus seluruh energinya tertuju pada keningnya. Mengirimkan sinyal bantuan pada teman-temannya.


Tidak lama, sekelompok lumba-lumba bergerak bermunculan dari dalam laut. Melompat beberapa kali ke udara, menandakan panggilan yang ia kirimkan telah berhasil mereka terima.


Ia membuka mata, kemudian tersenyum simpul dan memberikan isyarat lain berupa anggukan pada mereka.


"Wah, lihat, lumba-lumba!" teriak salah satu evolver termuda di sana sembari menunjuk ke arah laut dimana para lumba-lumba itu mulai bergerak membantu mendorong kapal yang mereka tumpangi.


Elvina dan William terdiam memandangi hal yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka. Sekelompok lumba-lumba berusaha menyelamatkan mereka dari kejaran para penjaga.


Fero terus memacu laju kapalnya. Mereka berhasil mengitari pulau itu untuk kali pertama dan berhasil meloloskan diri dari kejaran para penjaga. Namun, mereka masih terus mengejarnya.


Ketika mereka melintasi tepi pantai, Luna beberapa kali menatap ke arah dimana semula mereka naik. Di pantai tempat desa mereka berada itu, ia sudah tidak lagi dapat menemukan sosok Dorothy di sana. Lalu, desa yang mereka lihat telah hancur berkeping-keping.


Prang!


Perisai medan gaya miliknya hancur berkeping-keping. Wajah Elvina berubah pucat dengan tubuh yang langsung lunglai hampir jatuh, beruntung William bergerak cepat dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Kau baik-baik saja?" tanya William dengan raut wajah cemas menatap kakaknya yang sudah dalam keadaan terluka.


Elvina mendongak. Tatapan matanya sayu, beradu dengan William yang tampak sangat cemas. Ia tak menjawab sama sekali.


Tidak lama, fokus William tertuju pada hidung Elvina. Darah segar mengalir keluar dari sana. "Astaga El, kau mimisan." William mengusap darahnya cepat.


Joe dan penjaga yang lain kali ini menyerang dengan leluasa setelah perisai medan gaya Elvina hancur. Semua orang yang sadar akan situasi bahaya, lantas berusaha melindungi teman-temannya yang lain dengan balik menyerang.


Di sisi lain, Daisy yang berada di dekat Elvina segera menghampirinya begitu sadar kondisi Elvina cukup serius.


"Dia terlalu banyak menggunakan kekuatannya. Kalau dia terus menggunakan kekuatannya, dia bisa pingsan," jelasnya pada William.


"Apa?" William membelalakkan mata.


"Kau harus memulihkan energimu agar lebih membaik." Daisy menatap Elvina. Ia lantas bergerak membantunya berdiri dan pergi dari sana. Daisy membantu Elvina pindah ke arah Amanda.


...***...