Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 204 - Kelepasan



...***...


Mereka berdua beradu pandang dalam waktu yang cukup lama. Tanpa sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing. Hanya diam, dan saling mengagumi keindahan iris matanya masing-masing. Lusia menelan saliva-nya susah payah.


"Kenapa kau begitu tampan?" ujarnya pelan bagai bisikkan, namun tanpa ia sadari, Rei dapat dengan jelas mendengar perkataannya.


"Apa?" kata Rei yang dalam sekejap membuatnya tersadar.


Wajah Lusia berubah merona saat sadar apa yang baru saja terlontar dari bibir mungilnya itu.


"Kau berkata sesuatu?" Rei berusaha memastikan bahwa suara yang baru didengarnya adalah suara Lusia.


"A… apa? Aku? M… memangnya aku bicara apa?" Lusia gelagapan. Nada bicaranya kembali ketus seperti biasanya.


"Kau baru saja mengatakan sesuatu."


"T… tidak! Mungkin kau salah dengar, aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa," elak Lusia. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin bertatapan dengan Rei. Ia hanya tidak ingin Rei sadar dengan wajahnya yang mulai memanas.


Aku sungguh mendengarnya mengatakan kalau aku ini tampan, batin Rei.


Aih, kenapa aku malah kelepasan berbicara seperti itu dihadapannya? Untung saja dia tidak sadar dengan apa yang aku ucapkan, kalau dia sampai sadar, aku akan benar-benar malu. Lusia merutuki kebodohannya yang tanpa sadar berbicara seperti itu dihadapan Rei.


Rei terdiam menatap gadis itu. Ia bisa dengan jelas membaca isi pikirannya yang terdengar menyesal dengan apa yang baru ia ucapkan.


Memangnya kenapa dia harus malu kalau aku sadar dengan ucapannya? Rei tak mengerti. Ia berusaha menghiraukannya, dan memilih untuk memikirkan hal lain.


"Baiklah, kalau begitu duduklah." Rei mempersilahkan.


Lusia menarik kursi yang ada dihadapannya lalu duduk. Ia menaruh semua buku yang di bawanya ke atas meja.


"Kau sudah mencari buku? Padahal aku sudah memilih beberapa."


"Kau benar. Lalu, dimana Gloria dan Heru?"


"Mereka akan menyusul nanti, mereka memiliki urusan."


"Begitu rupanya. Baiklah."


"Kalau begitu ayo kita mulai saja." Lusia mengambil salah satu buku yang dibawanya, membuka dan membacanya secara perlahan untuk mencari bahan yang tepat untuk menyelesaikan tugas yang mereka dapatkan.



...*...


"Hahaha, ini sungguh menggelikan. Apakah aku benar-benar tidak salah melihat?" Ia terkekeh pelan melihat pemandangan dihadapannya.


"Wah, luar biasa. Aku tidak menyangka kalau ternyata mereka berdua saling kenal satu sama lain."


Seorang pria. Duduk di dinding beton yang menjulang tinggi.


Tingginya nyaris sejajar dengan rooftop gedung dihadapannya. Pria itu menatap dua orang yang dikenalnya, duduk bersama di dalam sebuah ruangan yang terletak cukup dekat dengan tempatnya berada.


"Bukankah ini bagus? Jadi kau akan bisa menangkap mereka berdua secara bersamaan saat mereka berduaan." Seseorang berujar di sampingnya.


Pria itu menoleh ke arah datangnya suara. Duduk tepat di sampingnya, seorang gadis berwajah pucat terduduk.


Gadis itu mengenakan seragam SMA yang begitu lusuh. Ia duduk sambil menggoyang-goyangkan kalinya. Tak ada rasa takut sama sekali terlihat dari wajahnya walaupun ia duduk di tempat yang begitu tinggi.


"Ya, itu menurutmu. Kau tidak tahu saja kalau lelaki itu bukanlah lelaki biasa." Pria itu mengalihkan fokusnya.


...***...