Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 145 - Tidak tahu malu



...***...


Astaga… dia begitu tampan. Melinda memandang Rei tanpa berkedip, keduanya beradu pandang satu sama lain dalam jarak yang cukup berdekatan.


Melinda mengulurkan tangannya, ia mengusap wajah Rei penuh kelembutan. Sebelum kemudian bergerak cepat nyaris mengecup bibirnya.


Rei yang terkejut, spontan melepaskan pegangannya hingga membuat tubuh Melinda menyentuh tanah dengan kasar.


"Argh…" Ia meringis menahan sakit, tangannya mengusap bagian tubuhnya yang terasa sakit.


"M… maaf, kau baik-baik saja?" Rei baru sadar dengan apa yang dilakukannya. Ia menatap Melinda dengan raut wajah cemas.


"Tubuhku rasanya sakit."


"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja melepas tubuhmu. Biar aku bantu kau berdiri." Rei mengulurkan tangannya guna membantu Melinda bangun.


Melinda mendongak menatap uluran tangan yang Rei berikan. Matanya beralih tatap sosoknya yang rupawan.


Wanita itu meraih uluran tangan Rei. Rei membantunya bangun, diluar dugaan Melinda mengambil kesempatan. Saat berhasil bangun, ia sengaja mencondongkan tubuhnya hingga jatuh ke arah Rei dengan posisi bibir mereka yang saling bersentuhan satu sama lain.


Rei membelalakkan mata, apalagi ketika dengan cepatnya Melinda menggerakkan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutnya.


Rei memberontak. Mendorong tubuhnya spontan hingga membuat dirinya nyaris tersungkur jatuh ke tanah.


"Arghh, apa yang kau lakukan!" Rei mengusap bibirnya kasar.


Melinda dengan santainya menatap Rei dengan lidahnya yang kini menjilat bibirnya.


"Cokelat," gumamnya pelan. "Rasanya begitu manis." Melinda berjalan menghampiri Rei. Senyuman terbit mengukir wajah cantiknya.


"Siapa namamu tampan?"


"Dasar tidak tahu malu," gerutu Rei yang berubah kesal. Ia berjalan melewati Melinda dengan wajah masam, berulang kali ia mengusap bibirnya dengan sedikit kasar.


"Hey tampan, tunggu aku!"



...*...


William menghentikan langkah kakinya saat menyadari Rei tertinggal jauh di belakangnya. Ia menoleh ke belakang dan memastikan keberadaannya. Namun raib, Rei tidak ada di belakangnya sama sekali.


"Astaga, ternyata mereka benar-benar lemah. Baru saja beberapa putaran mereka sudah hilang dari pandangan," lirihnya pelan.


"Sudahlah, lebih baik aku melanjutkan olahragaku agar dengan begitu saat mereka berolahraga, aku bisa duduk dan bersantai."


William kembali melanjutkan langkahnya, pergi dari tempatnya berada saat ini.


...*...


Elvina kembali melangkah. Ia menyusuri jalan yang semula mereka lewati selama beberapa putaran sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak dan membiarkan Rei dan William melanjutkan langkah mereka.


Matanya terus mengedar mencari keberadaan adik dan sepupunya yang hilang dari pengawasannya. Ada begitu banyak orang yang berkunjung ke taman pagi itu, membuat Elvina cukup kesulitan menemukan keberadaan keduanya.


"Astaga, kemana mereka sebenarnya? Kenapa mereka tidak ada di manapun? Apakah mereka sudah kembali?" Elvina memonolog.


Fokus pandangannya mendadak beralih pada sosok pria di tepi jalan yang cukup tak asing dalam ingatannya. Elvina menghentikan langkahnya spontan sembari memperhatikan sosoknya lebih jelas lagi.


Pria itu, kenapa sangat mirip dengan si tukang perintah? Apakah jangan-jangan itu memang dia? Atau hanya perasaanku saja? Elvina terus menatap ke arah pria dengan kemeja putih yang bagian lengannya dilipat hingga sikunya itu.


Pria itu bergerak tampak kebingungan dengan beberapa kali menatap ke arah mobil miliknya. Tak lama, Elvina bisa dengan jelas melihat wajahnya.


...***...