
...***...
Seperti yang telah di rencanakan, Cato membawa Lusia ke taman untuk jalan-jalan. Begitu tiba di sana, mereka berjalan-jalan sebentar mengelilingi taman hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu bangku kosong yang ada. Cato mendudukkan Lusia yang tampak gembira di atas bangku taman yang terbuat dari kayu itu.
"Bagaimana jalan-jalannya? Apakah kau suka?" tanya Cato sambil melirik ke arah anak perempuan yang kini duduk tepat di sebelahnya. Sambil tersenyum Lusia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau begitu, bagaimana kalau setiap akhir pekan kita melakukan ini? Kita pergi jalan-jalan bersama dengan yang lain. Kita ajak Derek, dan Joe juga."
"Benarkah? Aku mau!" Lusia berucap dengan antusias. Ide yang diutarakan Cato adalah ide bagus baginya. Cato tersenyum, tangannya perlahan mengusap puncak kepala gadis itu penuh kelembutan.
"Mulai Minggu depan kita lakukan, ya? Oh ya, omong-omong apakah kau haus? Kakek mau membeli minuman dulu. Lusia tidak apa-apa kalau menunggu sebentar di sini sambil istirahat?"
"Apa aku tidak boleh ikut saja?"
"Kau kan masih lelah, jadi duduk dulu saja di sini. Lagipula tidak akan lama, tempatnya juga tidak jauh. Di sana!" Cato menunjuk ke salah satu mesin minuman yang posisinya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada. "Jangan pergi kemana-mana, ya?"
"Baiklah," jawab Lusia. Segera setelah mendapatkan izin dari Lusia, Cato segera beranjak menuju mesin minuman yang ada. Ia tidak terlalu cemas meninggalkan Lusia seorang diri karena di taman ada banyak sekali orang yang berlalu-lalang, jadi dia pikir semuanya akan baik-baik saja. Toh dia juga hanya pergi sebentar.
"Hai gadis manis!" sapa seorang lelaki yang baru saja datang menghampirinya. Lusia mendongak begitu mendengar ada orang yang menyapanya. Begitu ia menoleh untuk mengecek, seorang pria berkostum badut berdiri tepat di dekatnya dengan membawa beberapa balon. Badut itu tersenyum ke arahnya.
Alih-alih kaget atau takut, fokus Lusia justru stuck pada balon udara berbentuk karakter yang digenggam oleh si badut. Kedua matanya menatap lekat benda itu.
Sementara si badut yang menyadari Lusia menatap balonnya lantas berkata, "Kau ingin ini?"
Pria itu mengulurkan satu balon ke arah Lusia. Gadis itu sekali lagi masih terdiam sambil memandangi balon yang kini berada tepat dihadapannya.
"Ambilah. Ini untukmu, gratis," ucap si badut sambil menarik tangan Lusia dan meminta anak itu untuk menggenggamnya.
"Wah..., balon." Lusia menatap balon dalam genggamannya. Ekspresinya berubah senang begitu sadar lelaki itu telah memberikannya balon.
"Kau menyukainya? Jika kau suka, aku bisa memberikanmu lebih banyak balon asal kau ikut denganku." Si badut itu kembali tersenyum ke arahnya. Tapi Lusia yang sama sekali tidak mengerti dengan kalimat yang dia ucapkan hanya bisa menatap si badut dengan ekspresi bingung. Sampai kemudian badut itu kembali mengulurkan tangannya dan menggenggam pergelangan tangan Lusia.
"Ayo!" tuturnya seraya menarik Lusia pelan. Tanpa penolakan atau pemberontakan, Lusia langsung turun dari bangku dan berjalan mengikuti si badut yang telah memberikannya balon. Mereka melangkah meninggalkan tempat semula, pergi dari keramaian.
...***...