
...***...
Gadis itu memakai seragam yang berbeda dengan seragam sekolah ini. Siapa sebenarnya dia? Rei menatap lekat ke arah gadis yang duduk di atas tembok beton seorang diri.
Begitu gadis itu sadar Rei sedang menatap ke arahnya. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Rei tanpa sadar mengangkat tangannya dan membalas lambaian tangan gadis itu.
Lusia mendelik ke arah Rei saat sadar lelaki dihadapannya sedang melambai ke arah luar jendela.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Lusia dengan nada ketus.
"Huh? Oh, tidak ada." Rei menurunkan tangannya.
Lusia menyipitkan matanya curiga. Ia kemudian mendengus sebelum kembali fokus pada bukunya.
"Mereka benar-benar menyebalkan, kenapa mereka tak kunjung kembali? Apakah mereka sengaja membuat kita mengerjakan semuanya berdua," gerutu Lusia. Mereka sudah menunggu lebih dari lima menit, dan Gloria serta Heru tak kunjung kembali dari urusan mereka masing-masing.
"Mungkin saja mereka sudah kembali ke kelas. Jam istirahatnya juga sebentar lagi berakhir." Rei menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
Lusia itu menatap jam miliknya. "Kau benar, ayo kita kembali ke kelas saja dan lanjutkan lagi pekerjaan ini lain waktu," ucapnya dengan nada dingin yang masih sama.
"Oke." Rei membereskan buku-buku yang ada dihadapannya dan menumpuknya menjadi satu. Hanya ada beberapa buku yang akhirnya mereka pilih untuk bahan referensi untuk tugas bahasa Inggris mereka.
"Aku akan menaruh ini kembali ke tempatnya, kau pergi duluan saja."
"Baiklah."
Begitu selesai, ia lantas kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
...*...
Rei melangkah masuk ke dalam rumahnya. Lagi-lagi yang ia temui hanyalah Ella yang tengah sibuk membereskan rumah.
Ia sempat menyapa wanita paruh baya itu sebelum kemudian berlalu menuju kamarnya.
Rei sempat berpapasan dengan Isyana di tangga. Tapi alih-alih menyapanya dan menanyakan bagaimana harinya di sekolah, Isyana hanya diam saja dan menghiraukannya.
Rei sudah mulai terbiasa. Sudah seminggu lebih ia merasakan sikap dingin dari orang-orang di rumah terhadapnya.
Mereka semua masih tidak ingin berbicara dengan Rei, sebelum ia membuktikan kalau dirinya benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa mengenai masa lalunya.
Tapi Rei benar-benar tidak tahu harus berbuat bagaimana agar keluarganya percaya dengan dirinya.
...*...
Tepat setelah makan malam, Rei segera pergi ke dalam kamarnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang ia miliki dan setelah itu beristirahat.
Pukul sepuluh malam, Rei baru menyelesaikan beberapa pekerjaan rumahnya dan kini dirinya terduduk di meja dengan otaknya yang terus di penuhi pertanyaan mengenai apa yang harus ia lakukan.
Masalah yang aku miliki akhir-akhir ini begitu banyak. Semenjak aku bertemu dengan Elvina dan keluargaku, aku jadi memiliki lebih banyak masalah. Terutama setelah aku kembali ke rumah dan mengetahui kebenaran kalau aku sama sekali tidak amnesia. Sikap mereka semua yang semula begitu ramah dan hangat, sekarang tiba-tiba menjadi begitu dingin dan terasa menyakitkan. Rei menghela napasnya panjang, ia menundukkan kepalanya yang terasa hanya dipenuhi dengan masalah di kehidupannya.
"Dua hal itu terus saja menggangguku. Mengenai mengenai masalah di keluargaku, dan rasa penasaranku mengenai sekelompok lelaki di sekolah yang terus saja bertemu denganku."
...***...