
...***...
Prang!
Hantaman terakhir membuat medan gaya yang melindungi Elvina pecah.
Brukk!
Wanita itu tersungkur di tanah bersemen dengan tubuh terluka.
"Elvina!" William menatap kakaknya dengan wajah cemas saat melihat wanita itu terluka. Baru saja William hendak bangun membantu Elvina, makhluk yang sejak tadi berusaha menyerang mereka langsung bertindak memegangi tubuhnya hingga tidak bisa bergerak.
"Argh…" William dan Lucy tidak dapat bergerak sama sekali. Mereka berusaha memberontak, membebaskan diri dari sesuatu yang tidak dapat mereka lihat.
Apa ini? Kemampuan apa yang sebenarnya mereka miliki? Lucy membelalakkan mata. Ia terus bergerak, sialnya makhluk itu mencengkram tubuhnya erat hingga nyaris membuatnya tidak dapat bernapas.
Elvina berusaha untuk bangkit, tapi entah mengapa tubuhnya benar-benar terasa berat, seolah-olah ada sebuah batu besar yang menindih tubuhnya.
Kekuatan apa yang sebenarnya dia miliki? Kenapa aku sampai tidak bisa bergerak seperti ini? Apakah dia memiliki kemampuan menggerakkan benda atau semacamnya? Elvina menatap ke arah Andrich yang berdiri di sana dengan senyum terukir di wajahnya.
"Bagus, sekarang bawa mereka semua ke markas!" Tuannya berbalik. Andrich mengangguk dan segera meminta anak-anak buah gaibnya untuk pergi membawa Lucy dan yang lainnya.
Dia baru saja berbicara dengan siapa? Kenapa dia berbicara sendiri? Elvina membatin.
Tubuhku terasa benar-benar berat. Aku tidak bisa bergerak. Rei… kau dimana? Kenapa kau begitu lama? Cepatlah sampai. Aku sudah tidak kuat untuk terus mengulur waktu, pikirnya.
...*...
Rei nyaris menabrak tiang saat ia melihat kilasan dari apa yang sedang terjadi pada Elvina dan yang lainnya.
Aku harus menolong mereka. Aku harus tiba di sana secepatnya! Rei bertekad. Kedua matanya menatap tajam ke depan, kedua tangannya mencengkram erat stang motornya.
Ia mempercepat lajunya semaksimal mungkin, tekadnya membuat ia berusaha untuk tiba di lokasi secepat mungkin.
Motornya melaju diantara gang sempit yang ia lewati. Terus melaju hingga fokus pandangan Rei tertuju pada sebuah cahaya aneh yang mendadak muncul di hadapannya.
Cahaya itu begitu terang dan menyilaukan hingga membuat Rei harus sedikit menyipitkan matanya walaupun ia mengenakan helm dengan kaca berwarna gelap.
Rei tak berhenti dan terus melaju menembus cahaya yang dilihatnya.
Sesaat yang dilihatnya hanya putih. Namun tak lama, dirinya mendadak beralih tempat. Berada di tempat dimana Elvina berada.
Rei menghentikan motornya di dekat dimana Elvina terlihat sesulit bergerak karena di tindih oleh tangan besar milik makhluk raksasa tak kasat mata itu.
Rei melompat turun dari motornya, melepaskan helmnya seraya mengerjap yang dalam sekejap membuat iris matanya berubah.
Ia menatap makhluk yang dilihatnya hingga membuat kobaran api muncul membakar tangannya.
Makhluk itu panik. Ia spontan melepaskan Elvina dan bergerak-gerak berusaha mematikan api yang membakar tangannya.
Fokus semua orang mendadak tertuju pada api yang melayang di udara. Elvina, berhasil bebas.
Ia menoleh ke arah sepupunya yang baru saja tiba dan membuat seluruh atensi beralih padanya.
"Rei…" lirih Elvina pelan.
"Kau baik-baik saja?" Rei menghampiri sepupunya dan membantu ia untuk bangkit.
...***...