Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 301 - Aku tidak peduli!



...***...


Brakk!


Pintu di buka dengan kasar olehnya. Fokus semua orang beralih pada Rei yang baru saja tiba di ruang kelasnya.


Rei berjalan menghampiri lelaki yang duduk di mejanya yang terletak di ujung jendela.


Fandy mendongak saat melihat Rei tiba di hadapannya. "Kita perlu bicara!" ucap Rei padanya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Fandy menaikkan sebelah alisnya bingung.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu melongok mendengar ucapan Rei. Mulut mereka terbuka sempurna, dengan tatapan tak percaya.


Rei tanpa banyak bicara langsung menarik kerah baju bagian belakang Fandy dan menariknya keluar kelas.


Fandy terseret. Ia berusaha memberontak namun gagal meloloskan diri.


"Astaga, rumor itu jadi benar?"


"Aku benar-benar tidak menyangka!"


"Dengan Fandy? Sungguh?"


"Ah sial! Kenapa harus mereka? Padahal gen mereka adalah gen istimewa! Benar-benar di sayangkan."


Semua teman-teman sekelas Fandy berbisik di ambang pintu masuk sambil menatap ke arah dimana Rei menarik Fandy keluar.


"Lepaskan aku!" Fandy memberontak begitu mereka tiba di halaman belakang sekolah. "Dengar! Apa yang kau lakukan ini, membuat semua orang makin salah paham denganmu! Mereka semua pasti akan percaya dengan rumor yang beredar!" gerutu Fandy.


"Aku tidak peduli dengan rumor! Yang ingin aku bicarakan denganmu adalah…"



...*...


Jalanan di sepanjang koridor begitu penuh, banyak orang yang berlalu-lalang di sekeliling mereka.


Lusia melamun. Tatapannya kosong menatap lantai yang dilaluinya.


Heru dan Gloria asik mengobrol, membicarakan banyak hal yang membuat mereka sesekali tertawa terbahak.


Fokus Lusia dan kedua temannya itu beralih pada sekelompok pria yang kini berjalan di dekat mereka. Mereka dari kelas sebelas.


Orang yang sama yang beberapa kali sempat bertemu dengan Rei dan menertawakannya.


Heru mendelik ke arah mereka. Ia tahu betul kalau orang-orang itu sejak awal memang menyebalkan, mereka selalu tertawa terbahak dan berbicara sesuatu yang cenderung tidak dapat di mengerti olehnya.


"Haha, tunggu, bukankah dia adalah gadisnya? Hahaha, kasihan sekali dia."


"Hahaha, kau benar. Aku jadi kasihan dengan gadis yang berpacaran dengannya."


Para pria itu kembali tertawa terbahak sembari menatap ke arah Lusia.


Lusia menghentikan langkah kakinya bersama dengan Gloria dan Heru. Ia menunduk dengan perasaan campur aduk.


"Mereka siapa? Kenapa mereka berbicara seperti itu? Benar-benar menyebalkan." Gloria mendelik ke arah sekelompok lelaki yang kini berjalan mendahului mereka sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.


"Mereka adalah anak-anak kelas sebelas yang beberapa waktu lalu terus mengganggu Rei." Heru menjawab.


"Benarkah?"


"Ya, mereka memang selalu seperti itu menertawakan sesuatu yang tidak jelas lalu bergosip seperti perempuan. Aku benar-benar tidak suka dengan mereka."


"Tapi apakah itu artinya Rei kenal dengan mereka?" Gloria menaikkan sebelah alisnya.


"Salah satunya adalah kak Lionel dan kak Reza, kau tidak ingat dengan senior kita di SMP? Dia dulu dari kelas IX-III dan kelas IX-I," gumam Lusia dengan suara pelan.


Gloria mendongak menatap sekelompok lelaki di sana. "Ah… benar. Aku baru sadar," lirihnya.


"Sudahlah hiraukan saja, dan ayo makan bersama." Heru mengalihkan pembicaraan.


"Tidak. Aku tidak pergi. Kalian saja," tutur Lusia yang menghentikan langkahnya.


"Tapi…"


"Aku pergi."


...***...